SEPUTAR DUNIA GAME
SEPUTAR DUNIA GAME

Dalam sejarah industri video game, ada banyak proyek yang menarik perhatian karena konsepnya yang unik. Namun, tidak semuanya berhasil sampai ke tangan pemain. Salah satu contoh yang paling menarik adalah 1666: Amsterdam, sebuah game aksi-petualangan yang sempat dikembangkan oleh Ubisoft melalui studio Ubisoft Montreal. Game ini memiliki konsep yang sangat ambisius, terutama karena menggabungkan dunia Amsterdam abad ke-17 dengan elemen supernatural, parkour, stealth, dan eksplorasi.

Meskipun akhirnya tidak pernah dirilis secara resmi, 1666: Amsterdam masih sering dibicarakan oleh penggemar game karena memiliki hubungan erat dengan salah satu nama besar di balik seri Assassin’s Creed, yaitu Patrice Désilets. Proyek ini bahkan dianggap sebagai salah satu game yang berpotensi menjadi penerus spiritual dari formula Assassin’s Creed.

Latar Belakang Pengembangan 1666: Amsterdam

1666: Amsterdam pertama kali menjadi perhatian publik sekitar tahun 2013. Proyek tersebut dikembangkan oleh Ubisoft Montreal dan dipimpin oleh Patrice Désilets, kreator yang sebelumnya memiliki peran penting dalam pengembangan Assassin’s Creed.

Désilets meninggalkan Ubisoft dan kemudian bergabung dengan THQ Montreal. Setelah THQ mengalami kebangkrutan, Ubisoft mengambil alih studio tersebut. Dalam prosesnya, proyek 1666: Amsterdam ikut berpindah kembali ke Ubisoft.

Namun, hubungan antara Désilets dan Ubisoft kembali memburuk. Pada akhirnya, Désilets meninggalkan perusahaan tersebut. Pengembangan 1666: Amsterdam kemudian dihentikan dan proyeknya tidak pernah dilanjutkan hingga menjadi game komersial.

Keputusan tersebut membuat 1666: Amsterdam berubah status dari calon game besar menjadi salah satu proyek “lost game” yang paling menarik dalam sejarah Ubisoft.

Amsterdam Tahun 1666 sebagai Dunia Permainan

Salah satu daya tarik terbesar game ini adalah setting-nya. Sesuai judulnya, 1666: Amsterdam mengambil latar kota Amsterdam pada tahun 1666.

Periode tersebut menawarkan lingkungan yang sangat berbeda dari kebanyakan game aksi modern. Amsterdam pada abad ke-17 merupakan kota perdagangan penting di Eropa. Kanal, rumah-rumah sempit, gang kota, pelabuhan, dan bangunan bertingkat akan menjadi bagian dari dunia permainan.

Setting ini juga membuka peluang besar untuk menghadirkan mekanisme parkour. Pemain kemungkinan dapat bergerak dari satu atap ke atap lainnya, memanjat bangunan, melewati gang sempit, serta menggunakan kanal sebagai bagian dari eksplorasi.

Konsep tersebut mengingatkan banyak orang pada Assassin’s Creed, terutama karena kemampuan menjelajahi kota secara vertikal. Namun, 1666: Amsterdam dirancang untuk memiliki identitasnya sendiri dengan menambahkan unsur supernatural yang jauh lebih kuat.

Unsur Supernatural yang Unik

Hal yang membuat 1666: Amsterdam berbeda adalah penggunaan elemen supernatural. Dari materi konsep dan informasi yang sempat diperlihatkan, game ini direncanakan memiliki karakter utama yang berhubungan dengan kekuatan supranatural.

Salah satu konsep yang paling menarik adalah kemampuan untuk memengaruhi atau mengendalikan hewan. Gagasan tersebut memberikan kemungkinan gameplay yang sangat luas.

Bayangkan pemain sedang menyusup ke sebuah area yang dijaga ketat. Alih-alih langsung berhadapan dengan musuh, pemain dapat menggunakan hewan di sekitar untuk mengalihkan perhatian penjaga. Seekor burung dapat digunakan untuk mengamati lingkungan, sementara hewan lain mungkin dapat membantu menciptakan gangguan.

Mekanisme seperti ini dapat membuat 1666: Amsterdam memiliki pendekatan stealth yang berbeda. Pemain tidak hanya mengandalkan senjata atau kemampuan fisik, tetapi juga memanfaatkan lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya.

Gameplay: Parkour, Stealth, dan Eksplorasi

Walaupun game ini tidak pernah selesai, sejumlah konsep dan footage yang muncul memberikan gambaran mengenai gameplay yang direncanakan.

Parkour tampaknya menjadi salah satu elemen utama. Pemain kemungkinan dapat menjelajahi Amsterdam dengan bergerak cepat melewati atap dan bangunan. Mekanisme tersebut sangat cocok dengan struktur kota bersejarah yang memiliki banyak bangunan rapat dan jalan sempit.

Stealth juga diperkirakan menjadi bagian penting. Pemain dapat menyelinap melewati musuh, memanfaatkan kegelapan, serta menggunakan lingkungan untuk menghindari perhatian.

Namun, 1666: Amsterdam tampaknya tidak ingin sekadar menjadi game stealth historis. Unsur supernatural memberikan lapisan gameplay tambahan yang membuatnya berbeda dari game aksi-petualangan biasa.

Konsep tersebut sangat menarik karena memberikan kebebasan kepada pemain dalam menyelesaikan situasi. Sebuah misi dapat diselesaikan dengan cara diam-diam, menggunakan kemampuan supernatural, atau memanfaatkan lingkungan..

Hubungannya dengan Assassin’s Creed

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembahasan mengenai 1666: Amsterdam hampir selalu dikaitkan dengan Assassin’s Creed. Hal ini terutama disebabkan oleh keterlibatan Patrice Désilets.

Désilets merupakan salah satu tokoh penting dalam lahirnya Assassin’s Creed. Karena itu, ketika 1666: Amsterdam diperkenalkan, banyak orang melihatnya sebagai evolusi dari ide-ide yang pernah digunakan dalam Assassin’s Creed.

Kesamaan tersebut terutama terlihat dari penggunaan kota bersejarah sebagai dunia terbuka, parkour, stealth, serta penekanan pada eksplorasi.

Namun, 1666: Amsterdam memiliki potensi untuk bergerak ke arah yang berbeda. Jika Assassin’s Creed berfokus pada konflik antara Assassin dan Templar serta sejarah alternatif, 1666: Amsterdam justru tampak lebih tertarik pada tema supernatural dan atmosfer gelap.

Inilah yang membuat proyek tersebut begitu menarik. Game ini bukan sekadar “Assassin’s Creed di Amsterdam”, melainkan sebuah konsep baru yang mencoba menggabungkan sejarah dengan fantasi gelap.

Mengapa 1666: Amsterdam Dibatalkan?

Alasan utama proyek ini tidak berlanjut berkaitan dengan perubahan kepemilikan dan konflik antara Patrice Désilets dengan Ubisoft.

Setelah Ubisoft mengambil alih THQ Montreal, Désilets kembali berada di bawah Ubisoft. Namun, ia kemudian meninggalkan perusahaan tersebut dalam situasi yang penuh perselisihan. Setelah kepergiannya, Ubisoft menghentikan pengembangan 1666: Amsterdam.

Pada titik tersebut, proyek masih berada dalam tahap pengembangan dan belum menjadi produk yang siap dirilis. Akibatnya, pemain tidak pernah mendapatkan versi lengkapnya.

Bagi industri game, pembatalan tersebut bukan sesuatu yang luar biasa. Banyak proyek video game dihentikan karena alasan finansial, perubahan strategi perusahaan, masalah produksi, atau perbedaan visi kreatif. Akan tetapi, 1666: Amsterdam menjadi lebih terkenal karena konsepnya sudah cukup menarik perhatian publik sebelum akhirnya menghilang.

Warisan yang Masih Diingat

Meskipun tidak pernah dirilis, 1666: Amsterdam tetap memiliki tempat khusus di kalangan penggemar video game.

Game ini menjadi contoh bagaimana sebuah proyek yang belum selesai dapat tetap menarik perhatian bertahun-tahun setelah pembatalannya. Materi konsep, footage pengembangan, dan informasi yang pernah beredar memberikan gambaran mengenai apa yang mungkin menjadi sebuah game yang sangat unik.

Selain itu, proyek ini juga memperlihatkan bagaimana industri game penuh dengan ide-ide yang tidak selalu berhasil diwujudkan. Sebuah konsep yang terlihat menjanjikan di atas kertas belum tentu dapat bertahan menghadapi perubahan bisnis dan dinamika pengembangan.

Bagi penggemar Assassin’s Creed1666: Amsterdam juga menjadi semacam “game alternatif” yang menunjukkan arah lain yang mungkin diambil oleh Patrice Désilets setelah meninggalkan Ubisoft.

Kesimpulan

1666: Amsterdam merupakan salah satu game yang paling menarik justru karena tidak pernah dirilis. Dengan latar Amsterdam tahun 1666, parkour, stealth, eksplorasi kota, dan elemen supernatural, proyek ini memiliki konsep yang cukup berbeda dari game aksi-petualangan pada masanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *