Death’s Door: Sebuah Ode Melankolis nan Indah tentang Kematian dan Birokrasi
Dalam industri video game yang sering kali dipadati oleh judul-judul open-world raksasa dengan ratusan jam konten, terkadang yang kita butuhkan hanyalah sebuah pengalaman yang padat, terpoles sempurna, dan memiliki jiwa. Death’s Door, sebuah permata indie garapan pengembang Acid Nerve (yang sebelumnya dikenal lewat Titan Souls) dan diterbitkan oleh Devolver Digital, adalah jawaban tepat untuk kebutuhan tersebut.
Game ini tidak hanya menawarkan tantangan aksi yang memuaskan, tetapi juga menyajikan perenungan filosofis tentang akhir kehidupan yang dibungkus dengan humor gelap dan pesona visual yang memikat.
Rutinitas Harian Sang Gagak Pencabut Nyawa
Premis Death’s Door sangat unik sekaligus menggelitik. Anda tidak bermain sebagai pahlawan super atau ksatria legendaris, melainkan sebagai seekor gagak kecil yang bekerja di “Reaping Commission Headquarters”. Ini adalah sebuah kantor birokrasi bernuansa noir dan monokromatik di mana kematian dikelola layaknya administrasi perkantoran yang membosankan. Para gagak bekerja mencabut nyawa makhluk hidup, mengecap kartu jam kerja, dan berusaha memenuhi kuota.

Cerita dimulai ketika rutinitas Anda terganggu. Satu jiwa besar yang ditugaskan kepada Anda dicuri tepat di depan mata. Untuk mendapatkannya kembali dan membuka “Pintu Kematian” (Death’s Door), Anda dipaksa menjelajahi dunia yang tidak tersentuh oleh kematian. Di dunia ini, makhluk-makhluk hidup tumbuh terlalu tua, terlalu besar, dan terlalu kuat karena mereka menolak untuk mati. Tugas Anda sederhana namun berat: mengalahkan tiga raksasa yang memegang jiwa-jiwa besar (Giant Souls) untuk membuka pintu tersebut.

Gameplay: Perpaduan Sempurna Zelda dan Dark Souls
Secara mekanik, Death’s Door sering digambarkan sebagai perpaduan antara struktur eksplorasi The Legend of Zelda klasik dengan sistem pertarungan yang terinspirasi dari Dark Souls, namun dalam versi yang jauh lebih ringan dan mudah diakses (Souls-lite).

- Pertarungan yang Responsif: Sistem pertarungan dalam game ini terasa sangat tajam (snappy). Gagak Anda bisa melakukan serangan pedang standar, serangan bermuatan (charged attack), memanah dengan sihir, dan tentu saja, melakukan dodge roll. Kunci kemenangannya bukan pada menghafal kombinasi tombol yang rumit, melainkan pada ritme, pengamatan pola musuh, dan penempatan posisi. Setiap serangan terasa memiliki bobot, dan setiap kesalahan bisa berakibat fatal, meski hukumannya tidak sebrutal game Souls pada umumnya.
- Desain Level dan Teka-teki: Dunia Death’s Door terbagi menjadi beberapa bioma unik, mulai dari Urn Witch’s Estate yang penuh taman rimbun hingga Castle Lockstone yang basah dan berangin. Eksplorasinya bersifat non-linear namun terarah. Anda akan menemukan teka-teki lingkungan yang cerdas—tidak terlalu sulit hingga membuat frustrasi, tetapi cukup menantang untuk memberikan rasa pencapaian. Seiring permainan, Anda akan mendapatkan kemampuan baru (seperti bom api atau hookshot) yang memungkinkan Anda mengakses area-area rahasia yang sebelumnya tertutup, sebuah elemen Metroidvania ringan yang dieksekusi dengan baik.


Estetika Visual dan Audio yang Menghipnotis
Salah satu aspek terkuat dari Death’s Door adalah presentasi artistiknya. Game ini menggunakan sudut pandang isometrik dengan gaya seni yang bersih, agak low-poly, namun kaya akan detail pencahayaan.



Setiap area terasa seperti diorama hidup yang dirancang dengan penuh kasih sayang. Kontras antara markas birokrasi yang abu-abu dan dunia luar yang penuh warna menciptakan narasi visual yang kuat. Desain karakternya pun sangat berkesan; mulai dari sang Gagak yang terlihat rapuh namun gigih, hingga bos-bos besar yang desainnya mengerikan sekaligus tragis, seperti Nenek Penyihir yang wajahnya adalah guci keramik yang retak.

Musik yang digubah oleh David Fenn adalah nyawa dari atmosfer game ini. Soundtrack-nya mampu beralih dengan mulus dari dentingan piano melankolis saat eksplorasi yang tenang, menjadi orkestra yang megah dan memacu adrenalin saat pertarungan bos. Musiknya tidak hanya menjadi latar, tetapi juga menjadi pendamping emosional pemain sepanjang perjalanan.

Tema: Menerima Kematian sebagai Bagian dari Hidup
Di balik lapisan aksi dan humornya (seperti karakter “Pothead” yang memiliki kepala berupa panci sup), Death’s Door menyimpan pesan yang mendalam. Game ini mengeksplorasi ketakutan akan kematian dan konsekuensi buruk dari upaya menghindarinya.




Musuh-musuh utama dalam game ini bukanlah penjahat murni, melainkan individu-individu yang begitu takut kehilangan kekuasaan atau kehidupan sehingga mereka merusak tatanan alam. Mereka telah hidup terlalu lama hingga keberadaan mereka menjadi racun bagi dunia di sekitar mereka. Melalui perjalanan sang Gagak, pemain diajak untuk memahami bahwa kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau dilawan, melainkan sebuah kepastian yang memberikan makna pada kehidupan itu sendiri. Siklus hidup dan mati adalah hal yang natural, dan mengganggunya hanya akan membawa penderitaan.



Kesimpulan: Sebuah Mahakarya Indie
Dengan durasi permainan sekitar 8 hingga 10 jam, Death’s Door adalah contoh sempurna dari game yang tahu persis apa yang ingin disampaikannya dan kapan harus berakhir. Tidak ada konten pengisi (filler) yang tidak perlu; setiap momen dalam game ini terasa dirancang dengan tujuan yang jelas.


Tingkat kesulitannya yang seimbang membuatnya bisa dinikmati oleh veteran genre action-RPG maupun pendatang baru. Pertarungan bosnya epik, ceritanya menyentuh hati, dan dunianya penuh dengan rahasia yang mengundang rasa ingin tahu.



Bagi siapa pun yang mencari petualangan yang menggugah pikiran, indah dipandang, dan menyenangkan untuk dimainkan, Death’s Door adalah judul yang wajib dimainkan. Ini adalah pengingat bahwa terkadang, kematian (dalam video game) bisa menjadi pengalaman yang sangat indah.
