SEPUTAR DUNIA GAME
SEPUTAR DUNIA GAME

Enotria: The Last Song adalah sebuah game action RPG bergaya soulslike yang dikembangkan dan diterbitkan oleh studio independen asal Italia, Jyamma Games. Dirilis pada September 2024 untuk PC dan PlayStation 5, serta menyusul di Xbox Series X/S pada Desember 2024, game ini langsung menarik perhatian karena mengusung pendekatan yang berbeda dari kebanyakan game soulslike yang identik dengan dunia gelap dan suram. Enotria justru menghadirkan dunia yang cerah, penuh warna, dan terinspirasi oleh budaya, folklore, serta teater klasik Italia.

Dengan konsep yang disebut oleh pengembang sebagai “Summer-Soul”, Enotria: The Last Song mencoba menawarkan pengalaman soulslike yang lebih hangat secara visual, namun tetap mempertahankan tingkat kesulitan dan kompleksitas gameplay yang menjadi ciri khas genre ini.


Latar Dunia dan Cerita

Enotria berlatar di sebuah benua fiksi bernama Enotria, sebuah negeri yang dulunya makmur dengan berbagai budaya dan peradaban. Namun, dunia ini kini terkutuk oleh sebuah kekuatan bernama Canovaccio, sebuah konsep yang terinspirasi dari naskah dan struktur teater commedia dell’arte. Kutukan ini memaksa para penduduk untuk terus memainkan peran tertentu, seolah-olah mereka hanyalah aktor dalam sebuah pertunjukan tanpa akhir.

Pemain berperan sebagai Maskless One, seorang karakter yang tidak terikat oleh peran dan takdir yang ditentukan oleh Canovaccio. Tujuan utama pemain adalah mematahkan kutukan tersebut, membebaskan dunia Enotria, dan mengungkap kebenaran di balik “pertunjukan” yang mengikat seluruh negeri.

Narasi dalam Enotria disampaikan secara tidak langsung, khas game soulslike. Pemain harus memperhatikan dialog singkat, deskripsi item, lingkungan, serta potongan cerita untuk memahami lore secara menyeluruh. Pendekatan ini membuat dunia terasa misterius dan mendorong pemain untuk lebih eksploratif dalam menafsirkan cerita.


Sistem Mask dan Identitas Karakter

Salah satu fitur paling unik dalam Enotria: The Last Song adalah sistem Mask (topeng). Topeng dalam game ini bukan sekadar kosmetik, melainkan berfungsi seperti “kelas” atau build yang dapat mengubah gaya bermain pemain.

Setiap topeng memberikan bonus statistik, kemampuan pasif, serta akses ke skill tertentu. Pemain dapat mengoleksi berbagai topeng dari musuh atau boss yang dikalahkan, lalu menggantinya sesuai dengan kebutuhan. Sistem ini memungkinkan pemain untuk:

  • Beralih antara gaya bermain ofensif, defensif, atau hybrid
  • Menyesuaikan build dengan tipe musuh atau area tertentu
  • Bereksperimen dengan kombinasi skill dan statistik

Dengan adanya sistem ini, Enotria mendorong fleksibilitas dan kreativitas, tidak mengunci pemain pada satu gaya bermain saja.


Mekanik Ardore dan Perubahan Dunia

Fitur utama lainnya adalah sistem Ardore, sebuah mekanik yang memungkinkan pemain untuk mengubah “keadaan” dunia dan musuh. Dengan Ardore, pemain dapat mempengaruhi:

  • Perilaku musuh
  • Interaksi lingkungan
  • Efek status tertentu
  • Solusi puzzle dan jalur alternatif

Sistem ini menambahkan lapisan strategi dalam eksplorasi dan pertarungan. Pemain tidak hanya dituntut untuk menguasai timing serangan dan parry, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana memanfaatkan Ardore untuk mendapatkan keuntungan taktis.


Gameplay dan Sistem Pertarungan

Sebagai game soulslike, Enotria tetap mengandalkan:

  • Pertarungan berbasis stamina
  • Timing yang presisi
  • Sistem parry dan dodge
  • Hukuman berat saat mati (kehilangan resource)

Namun, Enotria mencoba mendorong gaya bermain yang lebih agresif. Beberapa ciri khas gameplay-nya meliputi:

  • Parry yang penting untuk membuka kesempatan serangan balik
  • Chain parry untuk menghadapi musuh yang lebih kuat
  • Riposte yang memberikan damage besar setelah pertahanan berhasil

Game ini juga menawarkan lebih dari 100 senjata, puluhan spell, serta berbagai modifier yang memungkinkan variasi build yang cukup luas. Meski demikian, beberapa kritik menyebutkan bahwa sistem yang terlalu banyak justru bisa terasa membingungkan, terutama bagi pemain baru di genre soulslike.


Desain Dunia dan Visual

Salah satu aspek yang paling banyak dipuji dari Enotria adalah art direction dan desain dunianya. Terinspirasi oleh lanskap Italia, game ini menampilkan:

  • Kota-kota dengan arsitektur mediterania
  • Pedesaan cerah dengan nuansa musim panas
  • Area teater dan panggung yang sarat simbolisme
  • Warna-warna hangat yang jarang ditemui di soulslike

Pendekatan visual ini memberikan identitas yang kuat dan membedakan Enotria dari game sejenis seperti Dark Souls, Elden Ring, atau Lies of P yang cenderung gelap dan suram.


Musuh dan Pertarungan Boss

Enotria menghadirkan berbagai jenis musuh yang terinspirasi oleh karakter teater, folklore, dan mitologi lokal. Desain musuh cukup unik, namun sebagian pemain menilai bahwa variasi AI dan pola serangan tidak selalu sekompleks game soulslike papan atas.

Untuk pertarungan boss, respon kritikus cukup beragam. Beberapa boss dianggap menarik secara visual dan tema, tetapi ada juga yang dinilai kurang menantang atau kurang memorable. Ini menjadi salah satu poin kritik utama, di mana sebagian pemain berharap pertarungan boss bisa lebih epik dan ikonik.


Masalah Teknis dan Performa

Salah satu kelemahan terbesar Enotria: The Last Song saat peluncuran adalah masalah teknis. Banyak pemain dan reviewer melaporkan:

  • Bug yang mengganggu progres
  • Frame drop dan masalah optimasi
  • Glitch pada boss fight
  • Masalah UI dan sistem yang terasa kurang rapi

Meski pengembang terus merilis patch dan update, reputasi awal game sempat terdampak oleh kondisi teknis yang belum optimal.


Penerimaan dan Respons Komunitas

Secara umum, Enotria: The Last Song menerima ulasan campuran hingga positif. Game ini dipuji karena:

  • Setting yang unik dan segar
  • Visual dan art direction yang kuat
  • Ide-ide baru seperti sistem Mask dan Ardore

Namun, game ini juga dikritik karena:

  • Kurangnya inovasi besar dalam formula soulslike
  • Masalah teknis yang cukup serius
  • Sistem yang terasa terlalu kompleks dan kurang rapi

Bagi penggemar soulslike yang mencari sesuatu yang berbeda secara visual dan tema, Enotria bisa menjadi pilihan menarik. Namun, bagi mereka yang mengharapkan polish setara game AAA, pengalaman mungkin terasa kurang memuaskan.


Kesimpulan

Enotria: The Last Song adalah sebuah eksperimen menarik dalam genre soulslike. Dengan menggabungkan folklore Italia, tema teater, dunia cerah, serta sistem Mask dan Ardore, game ini berhasil membangun identitas yang unik. Meskipun masih memiliki banyak kekurangan, terutama dari sisi teknis dan desain boss, Enotria tetap layak dicoba bagi pemain yang ingin merasakan soulslike dengan nuansa berbeda.

Sebagai karya dari studio indie, Enotria menunjukkan ambisi besar dan potensi yang kuat. Jika Jyamma Games terus memperbaiki dan mengembangkan game ini melalui update dan konten tambahan, Enotria: The Last Song berpeluang menjadi salah satu soulslike unik yang dikenang karena keberaniannya keluar dari pakem gelap yang selama ini mendominasi genre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *