Pendahuluan
Industri game penuh dengan sekuel dan reboot, namun hanya sedikit yang mampu mempertahankan identitas kuat sambil berevolusi mengikuti zaman. Salah satu contoh menarik adalah Darksiders III, game aksi-petualangan yang dikembangkan oleh Gunfire Games dan dirilis oleh THQ Nordic pada tahun 2018. Game ini menjadi lanjutan dari seri Darksiders yang sebelumnya dikenal lewat protagonis pria tangguh, dunia post-apocalyptic, serta perpaduan unik antara hack-and-slash, puzzle, dan eksplorasi ala Metroidvania.
Berbeda dari pendahulunya, Darksiders III menghadirkan perubahan besar, baik dari sisi karakter utama, pendekatan gameplay, hingga tingkat kesulitan. Pemain kini mengendalikan Fury, satu-satunya Horseman perempuan dari Empat Penunggang Kuda Kiamat. Dengan cambuk mistis dan kepribadian yang penuh amarah, Fury menawarkan perspektif baru dalam kisah kehancuran umat manusia dan konflik kosmik antara Surga, Neraka, dan kekuatan misterius di balik keduanya.
Artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai aspek Darksiders III, mulai dari latar cerita, karakter, gameplay, desain dunia, sistem pertarungan, hingga penerimaan publik dan posisi game ini dalam keseluruhan seri Darksiders.

Latar Belakang Seri Darksiders
Seri Darksiders pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010 dengan game Darksiders yang berfokus pada karakter War. Game tersebut menggabungkan gaya visual ala komik karya Joe Madureira dengan gameplay mirip The Legend of Zelda dan God of War. Kesuksesan tersebut berlanjut lewat Darksiders II (2012) yang menempatkan Death sebagai protagonis, menghadirkan dunia lebih luas, elemen RPG lebih kental, serta cerita yang lebih emosional.
Setelah kebangkrutan THQ pada 2013, masa depan seri ini sempat tidak jelas. Namun, THQ Nordic akhirnya menghidupkan kembali franchise ini lewat Darksiders III. Alih-alih melanjutkan cerita secara kronologis, game ini justru berjalan paralel dengan peristiwa di game pertama, memperluas lore tanpa mengganggu kesinambungan cerita utama.
Cerita dan Dunia Darksiders III
Premis Cerita

Dalam Darksiders III, pemain berperan sebagai Fury, Horseman yang ditugaskan oleh Charred Council untuk memburu dan memusnahkan Seven Deadly Sins (Tujuh Dosa Mematikan) yang melarikan diri ke Bumi setelah kiamat. Bumi digambarkan sebagai dunia hancur, dipenuhi reruntuhan kota, makhluk iblis, dan sisa-sisa peradaban manusia yang telah lama punah.
Namun, misi Fury tidak sesederhana membunuh dosa-dosa tersebut. Sepanjang perjalanan, ia mulai mempertanyakan motif Charred Council, perannya sebagai Horseman, dan makna sebenarnya dari keseimbangan kosmik yang selama ini ia bela tanpa ragu.
Tema Cerita
Salah satu kekuatan utama Darksiders III terletak pada tema pertumbuhan karakter. Fury memulai cerita sebagai sosok arogan, pemarah, dan merasa dirinya paling layak di antara Horsemen lainnya. Namun, melalui pertemuan dengan karakter-karakter misterius seperti The Lord of Hollows dan Watcher, ia dipaksa menghadapi kelemahan, rasa bersalah, serta konsekuensi dari kesombongannya sendiri.
Tema seperti kerendahan hati, pengendalian diri, dan penebusan menjadi inti dari narasi game ini, menjadikannya lebih introspektif dibandingkan seri sebelumnya.

Karakter Utama dan Pendukung
Fury
Fury adalah protagonis yang sangat berbeda dari War dan Death. Ia cepat marah, tajam dalam ucapan, dan memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Senjata utamanya adalah Scorn, cambuk mistis yang fleksibel dan mematikan. Seiring permainan, Fury memperoleh berbagai Hollow Forms yang memberinya kekuatan elemen seperti api, es, petir, dan force.
Perkembangan karakter Fury adalah salah satu aspek terbaik game ini. Transformasinya dari sosok egois menjadi figur yang lebih bijaksana terasa organik dan didukung oleh dialog serta cutscene yang kuat.
Seven Deadly Sins
Tujuh Dosa Mematikan bukan sekadar bos biasa. Masing-masing memiliki desain unik dan kepribadian yang mencerminkan dosa yang mereka wakili, seperti Pride, Wrath, Greed, dan Sloth. Beberapa dosa mencoba memanipulasi Fury secara psikologis, menciptakan pertarungan yang tidak hanya fisik tetapi juga emosional.
Karakter Pendukung Lain
- Watcher: Makhluk pengawas yang ditugaskan Charred Council untuk memantau Fury. Karakternya ambigu dan sering memicu konflik batin Fury.
- Lord of Hollows: Entitas misterius yang membantu Fury memperoleh kekuatan baru, sekaligus membuka kebenaran tersembunyi tentang Horsemen dan Dewan.
- Vulgrim: Pedagang iblis yang kembali hadir, menjual item dan peningkatan kemampuan.
Gameplay dan Mekanisme Pertarungan
Sistem Pertarungan
Berbeda dengan gaya hack-and-slash cepat di game sebelumnya, Darksiders III mengadopsi sistem pertarungan yang lebih metodis dan menantang, terinspirasi oleh genre Souls-like. Pemain harus memperhatikan timing dodge, membaca pola serangan musuh, dan tidak bisa sembarangan menekan tombol serang.

Fury memiliki kemampuan dodge counter, di mana menghindar pada waktu yang tepat akan membuka peluang serangan balik mematikan. Sistem ini mendorong pemain bermain lebih sabar dan strategis.
Hollow Forms dan Progression
Hollow Forms adalah inti dari variasi gameplay. Setiap bentuk memberikan:
- Senjata baru
- Kemampuan traversal
- Elemen serangan khusus
Misalnya, Flame Hollow memungkinkan Fury mengakses area panas dan menyerang dengan api, sementara Storm Hollow memberinya kecepatan dan serangan petir.
Sistem upgrade memungkinkan pemain meningkatkan kesehatan, kekuatan, dan Arcane, serta memperkuat senjata melalui enhancement tertentu.

Desain Dunia dan Eksplorasi
Dunia Darksiders III dirancang sebagai peta semi-terbuka dengan struktur interconnected. Pemain akan sering kembali ke area lama dengan kemampuan baru untuk membuka jalur tersembunyi, menciptakan sensasi eksplorasi ala Metroidvania.
Lingkungan game sangat bervariasi, mulai dari kota terbengkalai, rawa beracun, hingga bangunan religius yang runtuh. Desain visualnya gelap, suram, dan konsisten dengan tema kehancuran dunia.
Visual, Audio, dan Presentasi
Secara visual, Darksiders III mempertahankan gaya seni khas seri ini: karakter over-the-top, desain monster grotesk, dan dunia yang terasa seperti ilustrasi komik gelap. Meski bukan game dengan grafis paling realistis, arah artistiknya kuat dan berkarakter.
Musik latar dan efek suara mendukung atmosfer game dengan baik. Voice acting Fury khususnya patut diapresiasi karena berhasil menyampaikan emosi, amarah, dan perkembangan karakter dengan meyakinkan.

Tingkat Kesulitan dan Aksesibilitas
Saat rilis, Darksiders III dikenal cukup sulit dan menuai kritik dari sebagian pemain. Menanggapi hal ini, developer kemudian menambahkan opsi Classic Combat Mode, yang memungkinkan pemain menikmati gaya pertarungan lebih santai seperti game sebelumnya.
Langkah ini menunjukkan komitmen Gunfire Games untuk mengakomodasi berbagai tipe pemain tanpa mengorbankan visi awal mereka.
Penerimaan dan Dampak
Secara umum, Darksiders III menerima ulasan campuran hingga positif. Banyak yang memuji cerita, karakter Fury, dan atmosfer dunia, sementara kritik sering diarahkan pada performa teknis dan perubahan gameplay yang cukup drastis.
Meski demikian, game ini dianggap sukses menghidupkan kembali franchise Darksiders dan membuka jalan bagi kelanjutan cerita Horsemen lainnya.

Kesimpulan
Darksiders III adalah game yang berani mengambil risiko. Dengan protagonis baru, pendekatan gameplay berbeda, dan cerita yang lebih introspektif, game ini berhasil menawarkan pengalaman segar tanpa melupakan identitas seri aslinya. Fury sebagai karakter utama membawa kedalaman emosional yang jarang ditemukan dalam game aksi sejenis.
Bagi penggemar lama Darksiders maupun pemain baru yang menyukai game aksi-petualangan dengan cerita kuat dan tantangan nyata, Darksiders III adalah perjalanan epik yang layak untuk dijalani hingga akhir.

