
Life is Strange: Before the Storm – Prekuel Emosional Penuh Luka dan Persahabatan
Setelah kesuksesan besar Life is Strange (2015) dari Dontnod Entertainment, banyak penggemar jatuh cinta pada atmosfer unik, pilihan moral yang berat, dan karakter-karakter yang terasa nyata. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2017, Square Enix merilis Life is Strange: Before the Storm sebagai prekuel. Game ini dikembangkan oleh Deck Nine Games, bukan Dontnod, namun tetap membawa semangat yang sama—sebuah drama remaja emosional penuh konflik, kehilangan, dan harapan.
Meskipun tidak memiliki elemen time rewind yang menjadi ciri khas game pertama, Before the Storm berhasil menyajikan pengalaman yang mendalam dengan fokus pada hubungan manusia, khususnya kisah antara Chloe Price dan Rachel Amber.
Latar Cerita – Sebelum Max Pulang ke Arcadia Bay
Game ini berlatar tiga tahun sebelum peristiwa Life is Strange. Pemain berperan sebagai Chloe Price, remaja berusia 16 tahun yang sedang berjuang menghadapi kehilangan ayahnya dalam kecelakaan, serta kesepian akibat sahabatnya, Max Caulfield, pindah ke Seattle. Chloe merasa marah pada dunia, sering memberontak, dan mencari pelarian lewat musik, grafiti, serta perilaku nekat.
Hidupnya berubah saat bertemu Rachel Amber, siswi populer di Blackwell Academy. Rachel ternyata memiliki luka tersembunyi meski tampak sempurna di mata banyak orang. Pertemuan ini melahirkan persahabatan mendalam—dan kemungkinan romansa—yang menjadi inti cerita Before the Storm.
Cerita terbagi dalam tiga episode (ditambah satu episode bonus berjudul Farewell), dengan fokus pada perjalanan emosional Chloe dan Rachel menghadapi keluarga, sekolah, serta rahasia kelam yang perlahan terungkap.
Gameplay – Narasi, Pilihan, dan Backtalk
Seperti pendahulunya, Before the Storm adalah game berbasis narasi interaktif. Gameplay utama terletak pada dialog, eksplorasi lingkungan, serta pilihan moral yang membentuk alur cerita.
- Sistem Pilihan
- Setiap dialog memberi pemain kesempatan untuk memilih respons Chloe.
- Keputusan kecil, seperti siapa yang akan dipercaya, hingga keputusan besar, seperti bagaimana menghadapi konflik keluarga, semuanya memiliki konsekuensi.
- Mekanik Backtalk
- Sebagai pengganti kekuatan manipulasi waktu Max, Chloe memiliki kemampuan Backtalk.
- Fitur ini berupa mini-game retorika, di mana pemain memilih jawaban tajam atau sarkastik untuk “menang” dalam adu argumen.
- Sistem ini mencerminkan sifat Chloe yang penuh perlawanan, meski kadang membawa masalah.
- Eksplorasi dan Aktivitas Sampingan
- Pemain bisa berinteraksi dengan lingkungan, membuat grafiti (alih-alih foto seperti Max), atau sekadar mengobrol dengan karakter lain.
- Detail kecil ini memperkaya dunia Arcadia Bay dan memberi konteks tambahan pada kisah Chloe.
Meskipun gameplay sederhana, kekuatannya ada pada narasi emosional yang disampaikan melalui pilihan, dialog, dan akting suara.
Karakter Utama
- Chloe Price
Protagonis utama dengan jiwa pemberontak, namun penuh luka batin. Kehilangan ayah dan rasa ditinggalkan membuatnya rapuh, meski sering menutupi dengan sikap keras. - Rachel Amber
Siswi cerdas, populer, dan penuh karisma. Namun, di balik pesonanya, Rachel menyimpan rahasia keluarga yang kelam. Kehadirannya memberi arah baru bagi hidup Chloe. - Joyce Price
Ibu Chloe yang berusaha menjaga keluarganya tetap utuh, meski mulai menjalin hubungan dengan David, pria yang tidak disukai Chloe. - David Madsen
Sosok otoriter yang kelak menjadi ayah tiri Chloe. Dalam game ini, pemain mulai melihat sisi awal hubungan tegang antara Chloe dan David.
Karakter-karakter pendukung seperti Frank Bowers, Victoria Chase, dan Steph Gingrich juga memperkaya narasi.
Visual dan Audio
Dari sisi grafis, Before the Storm menggunakan gaya visual serupa dengan game pertama—semi-realistis dengan sentuhan artistik seperti lukisan cat air. Meski ada sedikit keterbatasan animasi wajah, suasana Arcadia Bay terasa hidup, dengan latar tempat seperti Blackwell Academy, junkyard, dan rumah Rachel yang detail.
Musik menjadi salah satu elemen paling menonjol. Soundtrack digarap oleh band indie Daughter, menghasilkan nuansa melankolis yang sangat pas dengan tema kehilangan dan harapan. Lagu-lagu seperti Burn It Down dan All I Wanted meninggalkan kesan emosional yang kuat, menjadikan musik bagian integral dari pengalaman bermain.
Tema dan Pesan
Before the Storm bukan sekadar kisah remaja biasa. Game ini mengangkat tema berat seperti:
- Kehilangan dan trauma: Chloe berjuang menerima kematian ayahnya.
- Identitas dan cinta: Hubungan Chloe dan Rachel dapat dibentuk sebagai persahabatan mendalam atau romansa queer yang penuh makna.
- Keluarga dan rahasia: Kisah Rachel berpusat pada kebenaran pahit tentang keluarganya.
- Pemberontakan vs. kedewasaan: Chloe belajar bahwa melawan tidak selalu solusi, dan terkadang kompromi dibutuhkan.
Tema-tema ini membuat game terasa relevan, menyentuh, dan membekas di hati pemain.
Episode Bonus – Farewell
Selain tiga episode utama, ada episode tambahan berjudul Farewell. Di sini pemain kembali mengendalikan Max muda, bersama Chloe sebelum perpisahan. Episode ini menjadi jembatan emosional antara Before the Storm dan Life is Strange, sekaligus perpisahan yang menyayat hati.
Penerimaan dan Kritik
Before the Storm mendapat pujian luas dari kritikus dan penggemar karena:
- Kisah emosional dan mendalam.
- Hubungan Chloe dan Rachel yang autentik.
- Musik atmosferik yang kuat.
- Penulisan karakter yang matang.
Namun, ada juga kritik, seperti:
- Ketiadaan kekuatan supernatural membuat gameplay terasa lebih linear.
- Beberapa animasi terlihat kaku.
- Narasi bisa terasa lambat bagi pemain yang mencari aksi cepat.
Meskipun begitu, game ini dianggap sukses menjaga kualitas seri Life is Strange.
Kesimpulan
Life is Strange: Before the Storm adalah prekuel yang tidak hanya memperkaya semesta Arcadia Bay, tetapi juga memberi lapisan emosional baru pada karakter Chloe dan Rachel. Dengan fokus pada hubungan manusia, pilihan moral, serta atmosfer melankolis, game ini berhasil menyentuh hati banyak pemain.
Meski tidak memiliki mekanik rewind khas Max, Before the Storm justru menunjukkan bahwa kekuatan terbesar seri ini bukan pada kemampuan supernatural, melainkan pada cerita, karakter, dan emosi yang terasa nyata.
Bagi siapa pun yang mencintai narasi interaktif penuh perasaan, Before the Storm adalah sebuah pengalaman yang wajib dicoba.
