Di tengah banyaknya game survival dan action RPG yang menawarkan dunia luas, Remnants of Eden hadir dengan pendekatan yang cukup berbeda. Game ini membawa pemain ke sebuah dunia fiksi ilmiah penuh mesin, radiasi, fasilitas misterius, serta teka-teki yang perlahan mengungkap kisah kehilangan dan ingatan.
Dikembangkan oleh Red Sunset Productions, Remnants of Eden menggabungkan elemen isometric action, survival, shooter, puzzle, RPG, dan roguelike dalam sebuah pengalaman single-player. Salah satu daya tarik terbesarnya adalah kemampuan pemain untuk berganti antara bentuk Human dan Machine, masing-masing memiliki kelebihan serta kelemahan yang sangat berbeda.
Game ini pertama kali dirilis pada 18 November 2025 di Windows, sementara halaman Epic Games Store mencantumkan ketersediaannya pada 31 Agustus 2026, sehingga pada September 2026 game ini kembali mendapat perhatian sebagai salah satu rilisan indie sci-fi yang menarik untuk dicoba.
Dunia Remnants of Eden yang Penuh Misteri
Cerita Remnants of Eden berpusat pada Elias Kael, seorang ilmuwan yang terperangkap dalam sebuah situasi yang jauh lebih besar daripada sekadar perjuangan untuk bertahan hidup.
Dunia yang ditemui Elias bukanlah tempat yang ramah. Fasilitas teknologi yang seharusnya menjadi tempat penelitian dan perlindungan justru berubah menjadi lingkungan berbahaya. Mesin-mesin bermusuhan berkeliaran, sistem keamanan tidak lagi dapat dipercaya, radiasi memenuhi sejumlah area, sementara berbagai bagian fasilitas menyimpan potongan informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Konsep Human dan Machine Menjadi Inti Gameplay
Salah satu mekanisme paling penting dalam Remnants of Eden adalah kemampuan Elias untuk menggunakan dua bentuk berbeda.
Human Mode
Dalam bentuk manusia, Elias mempunyai mobilitas yang lebih cepat dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan secara lebih fleksibel.
Kecepatan menjadi keunggulan utama. Ketika musuh mulai mengepung, Human Mode memungkinkan pemain bergerak cepat, berpindah posisi, serta mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Namun ada konsekuensinya.
Tubuh manusia jauh lebih rentan terhadap radiasi. Penggunaan senjata juga tidak seefisien bentuk Machine. Karena itu, pemain tidak bisa sembarangan memasuki area berbahaya hanya karena ingin bergerak cepat.
Human Mode lebih cocok digunakan ketika pemain membutuhkan:
Mobilitas tinggi.
Pergerakan cepat.
Interaksi dengan lingkungan.
Menghindari serangan.
Menjelajahi area dengan tingkat radiasi rendah.
Mengambil posisi sebelum pertarungan.
Machine Mode
Sebaliknya, Machine Mode memberikan pengalaman bermain yang lebih berat tetapi memiliki kemampuan tempur yang lebih kuat.
Dalam bentuk mesin, Elias mempunyai akurasi senjata yang lebih baik, pengelolaan panas senjata yang lebih efisien, serta ketahanan terhadap berbagai bahaya lingkungan yang tidak dapat ditangani manusia.
Tetapi Machine Mode bukan berarti pemain menjadi kebal terhadap semua masalah.
Radiasi tetap menjadi ancaman. Terlalu banyak paparan dapat membuat bentuk Machine tidak dapat digunakan ketika pemain benar-benar membutuhkannya.
Dari sisi visual, Remnants of Eden menggunakan perspektif isometrik/top-down dengan lingkungan futuristik.
Fasilitas teknologi, lorong mekanis, ruangan gelap, lampu buatan, mesin, serta efek lingkungan menciptakan atmosfer yang cukup khas.
Visualnya tidak mencoba menghadirkan dunia sci-fi yang penuh warna dan megah seperti opera luar angkasa.
Sebaliknya, atmosfernya terasa lebih industrial dan misterius.
Lingkungan seperti fasilitas penelitian yang sudah rusak membuat pemain merasa bahwa mereka berada di tempat yang pernah digunakan manusia tetapi sekarang telah kehilangan kendali.
Kombinasi perspektif isometrik dan elemen sci-fi juga membantu pemain melihat area permainan dengan lebih luas.
Ini penting karena banyak pertempuran bergantung pada posisi.
Pemain dapat melihat musuh, objek, jalur, dan bahaya lingkungan dari sudut pandang yang relatif jelas.
Dibuat oleh Satu Developer
Salah satu hal menarik di balik Remnants of Eden adalah skala pengembangannya.
Game ini dikembangkan secara independen oleh satu developer di Red Sunset Productions.
Hal tersebut cukup menarik mengingat game memiliki sejumlah sistem yang saling terhubung.
Ada combat.
Ada dua bentuk karakter.
Ada sistem radiasi.
Ada procedural level.
Ada objective-based progression.
Ada puzzle.
Ada cerita.
Ada sistem eksplorasi.
Semua elemen tersebut dirancang untuk mendukung pengalaman yang sama: membawa pemain semakin jauh ke dalam fasilitas sambil mengungkap misteri Eden.
Pendekatan pengembangan seperti ini juga membuat Remnants of Eden terasa sebagai proyek yang memiliki identitas cukup spesifik.
Performa dan Spesifikasi PC
Untuk pemain PC, Remnants of Eden membutuhkan setidaknya 16 GB RAM dan kartu grafis kelas GTX 1660 atau RX 590 menurut informasi Steam. Penyimpanan yang dibutuhkan sekitar 10 GB.
Sementara itu, halaman Epic Games Store mencantumkan persyaratan yang berbeda dan lebih tinggi, termasuk RTX 2060 Super atau Radeon RX 6600 untuk minimum serta RTX 4070 atau RX 7800 XT pada rekomendasi. Kebutuhan penyimpanannya tercantum sekitar 12 GB.
Karena terdapat perbedaan spesifikasi antara halaman platform, pemain sebaiknya memperhatikan persyaratan pada toko tempat mereka membeli atau menjalankan game.
Kekurangan yang Perlu Diperhatikan
Meski memiliki konsep menarik, Remnants of Eden tetap merupakan game indie dengan skala yang berbeda dibandingkan game AAA.
Jumlah ulasan pemain di Steam masih sangat terbatas, sehingga belum tersedia basis ulasan komunitas yang besar untuk memberikan gambaran konsensus jangka panjang.
Selain itu, pemain yang mencari game dengan dunia open-world besar kemungkinan tidak akan mendapatkan pengalaman seperti yang mereka harapkan.
Remnants of Eden lebih fokus pada struktur survival, objective, eksplorasi area fasilitas, dan perjalanan melalui lantai-lantai yang memiliki tantangan tersendiri.
Game ini juga tidak menyediakan bahasa Indonesia pada daftar bahasa yang tercantum di Steam maupun Epic Games Store.
Jadi, kemampuan memahami bahasa Inggris akan cukup membantu, terutama untuk pemain yang ingin menikmati cerita dan membaca berbagai informasi di dalam fasilitas.
Apakah Remnants of Eden Layak Dimainkan?
Bagi pemain yang menyukai game sci-fi, survival, shooter top-down, roguelike, puzzle, dan cerita misterius, Remnants of Eden cukup menarik untuk dimasukkan ke daftar permainan yang patut dicoba.
Daya tarik utamanya bukan sekadar jumlah senjata atau banyaknya musuh.
Game ini lebih menonjolkan keputusan.
Kapan harus menjadi manusia?
Kapan harus menjadi mesin?
Kapan harus bertarung?
Kapan harus menghindar?
Berapa banyak radiasi yang masih dapat ditoleransi?
Resource mana yang harus digunakan?
Apakah sebuah ruangan sebaiknya diselesaikan sekarang atau lebih baik mencari perlengkapan terlebih dahulu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari gameplay.
Dan ketika pemain mulai memahami hubungan antara seluruh sistem tersebut, permainan menjadi jauh lebih menarik.
Kesimpulan
Remnants of Eden merupakan game sci-fi survival isometrik yang mencoba menawarkan pengalaman berbeda melalui perpaduan antara combat, eksplorasi, puzzle, survival, procedural level, serta narasi emosional.
Konsep Human dan Machine menjadi jantung permainan. Human menawarkan kecepatan dan fleksibilitas, sedangkan Machine memberikan presisi serta kemampuan bertahan terhadap kondisi lingkungan tertentu. Pemain harus memahami kapan menggunakan masing-masing bentuk, terutama ketika berhadapan dengan radiasi dan musuh mekanis.
Perjalanan melalui 20 lantai juga memberikan struktur yang jelas. Setiap lantai bukan sekadar tempat untuk mengalahkan musuh, tetapi memiliki objektif yang harus diselesaikan sebelum perjalanan dapat dilanjutkan.
Dengan perpaduan sci-fi, survival, action RPG, tactical shooting, puzzle, dan psychological storytelling, Remnants of Eden menjadi salah satu game indie yang menarik untuk diperhatikan pada 2026, terutama bagi pemain yang mencari pengalaman single-player yang tidak hanya mengandalkan aksi tetapi juga keputusan dan atmosfer
