SEPUTAR DUNIA GAME
SEPUTAR DUNIA GAME

Pendahuluan

Dragon Age II adalah game role-playing (RPG) yang dikembangkan oleh BioWare dan dirilis pada tahun 2011 untuk PC, PlayStation 3, dan Xbox 360. Sebagai sekuel dari Dragon Age: Origins, game ini menghadirkan perubahan besar baik dari segi mekanisme permainan, gaya visual, maupun fokus narasi. Jika Origins mengangkat kisah epik penyelamatan dunia dari ancaman Blight, maka Dragon Age II memilih pendekatan yang lebih personal dan politis, berpusat pada satu kota bernama Kirkwall dan perjalanan hidup seorang tokoh bernama Hawke.

Meskipun sempat menuai kontroversi karena perubahan gameplay dan penggunaan ulang aset lingkungan, Dragon Age II tetap diingat sebagai game dengan narasi kuat, karakter mendalam, serta konflik moral yang kompleks. Game ini berani menampilkan dunia fantasi yang lebih gelap, penuh ketegangan sosial, dan tidak selalu memberikan pilihan yang “benar”.


Latar Cerita dan Dunia Thedas

Cerita Dragon Age II berlangsung di dunia Thedas, beberapa tahun setelah peristiwa dalam Dragon Age: Origins. Pemain berperan sebagai Hawke, seorang pengungsi dari wilayah Ferelden yang melarikan diri akibat serangan Darkspawn. Bersama keluarganya, Hawke tiba di kota Kirkwall, sebuah kota pelabuhan yang keras, penuh kriminalitas, serta konflik politik dan sosial yang membara.

Tidak seperti game RPG lain yang berfokus pada perjalanan lintas kerajaan, Dragon Age II hampir seluruhnya mengambil latar di Kirkwall dan sekitarnya. Kota ini menjadi karakter tersendiri—tempat di mana konflik antara Mage dan Templar, ketegangan kelas sosial, serta intrik kekuasaan berkembang secara perlahan namun pasti.

Cerita dalam Dragon Age II dibagi ke dalam tiga babak utama (Act I, II, dan III), yang mencakup rentang waktu hampir sepuluh tahun. Pendekatan ini membuat pemain benar-benar merasakan perkembangan dunia, perubahan hubungan antar karakter, dan konsekuensi dari pilihan yang dibuat.


Tokoh Utama: Hawke

Hawke adalah protagonis utama dalam Dragon Age II. Tidak seperti Grey Warden dalam Origins yang bisa berasal dari berbagai latar belakang ras, Hawke selalu manusia, namun pemain tetap dapat menyesuaikan gender, kelas (Warrior, Mage, Rogue), dan kepribadian.

Salah satu inovasi terbesar Dragon Age II adalah sistem dialog berbasis kepribadian Hawke:

  • Diplomatic (ikon daun hijau) – Hawke yang tenang dan bijaksana
  • Humorous/Sarcastic (ikon topeng ungu) – Hawke yang sarkastik dan humoris
  • Aggressive (ikon api merah) – Hawke yang keras dan emosional

Pilihan dialog ini tidak hanya memengaruhi percakapan, tetapi juga membentuk kepribadian Hawke secara keseluruhan sepanjang permainan, menjadikannya salah satu protagonis RPG dengan karakter paling konsisten dan terasa “hidup”.


Karakter Pendamping (Companions)

Salah satu kekuatan utama Dragon Age II terletak pada karakter pendampingnya. Masing-masing companion memiliki latar belakang, konflik pribadi, serta pandangan ideologis yang kuat.

Beberapa karakter ikonik antara lain:

1. Varric Tethras

Seorang kurcaci penulis cerita dan pemanah ulung. Varric berfungsi sebagai narator cerita dan menjadi salah satu karakter paling dicintai dalam seri Dragon Age. Kepribadiannya yang santai dan humoris menyembunyikan kepedulian mendalam terhadap teman-temannya.

2. Merrill

Seorang elf mage dengan ketertarikan pada sihir darah dan artefak kuno. Merrill adalah karakter tragis yang berusaha melestarikan budaya elven, meskipun harus menghadapi penolakan dan bahaya besar.

3. Anders

Mage yang terikat dengan roh Justice. Anders menjadi simbol konflik antara kebebasan dan keamanan, serta memainkan peran kunci dalam klimaks cerita Dragon Age II.

4. Fenris

Mantan budak elf dengan tato lyrium yang memberinya kekuatan luar biasa. Fenris membenci perbudakan dan sihir, menjadikannya karakter dengan konflik ideologis yang kuat terhadap mage.

5. Aveline Vallen

Seorang warrior wanita yang setia pada hukum dan ketertiban. Aveline mewakili sudut pandang realistis dan disiplin di tengah kekacauan Kirkwall.

Hubungan dengan companion tidak hanya berbasis “like” atau “dislike”, melainkan menggunakan sistem Friendship dan Rivalry. Bahkan jika seorang companion tidak setuju dengan keputusan Hawke, hubungan rival bisa tetap kuat dan bermakna.


Sistem Gameplay dan Pertarungan

Dragon Age II membawa perubahan signifikan pada sistem pertarungan. Jika Origins cenderung taktis dan lambat, sekuelnya menawarkan aksi yang lebih cepat dan dinamis.

Perubahan Gameplay Utama:

  • Animasi serangan lebih cepat dan sinematik
  • Musuh datang dalam gelombang, menciptakan kesan pertempuran intens
  • Sistem skill tree yang lebih sederhana dan fokus
  • Antarmuka yang dirancang lebih ramah untuk konsol

Meskipun perubahan ini membuat game terasa lebih action-oriented, sebagian penggemar lama merasa kehilangan kedalaman taktis ala Origins. Namun bagi pemain baru, sistem ini lebih mudah diakses dan terasa modern pada masanya.


Konflik Mage dan Templar

Tema sentral Dragon Age II adalah konflik antara Mage dan Templar. Mage memiliki kekuatan sihir yang berbahaya dan sering diawasi ketat oleh Templar demi mencegah penyalahgunaan kekuatan atau kerasukan iblis.

Sepanjang permainan, Hawke terus dihadapkan pada dilema moral:

  • Apakah Mage pantas dikekang demi keselamatan publik?
  • Ataukah penindasan Templar justru memicu pemberontakan?

Tidak ada jawaban hitam-putih. BioWare dengan cerdas menampilkan kedua sisi konflik, menunjukkan bahwa ekstremisme dari pihak mana pun dapat berujung pada tragedi.

Puncak konflik ini terjadi di akhir permainan, di mana pilihan Hawke akan berdampak besar terhadap nasib Kirkwall dan dunia Thedas secara keseluruhan.


Visual dan Desain Lingkungan

Secara visual, Dragon Age II menggunakan gaya artistik yang lebih stylized dibanding pendahulunya. Karakter memiliki desain yang lebih tegas dan khas, terutama ras elf yang tampil lebih ramping dan berbeda dari manusia.

Namun, kritik terbesar terhadap game ini adalah penggunaan ulang aset lingkungan seperti gua, rumah, dan lorong bawah tanah. Meskipun secara naratif dapat dijelaskan sebagai keterbatasan wilayah Kirkwall, hal ini tetap terasa repetitif bagi sebagian pemain.


Musik dan Suara

Musik dalam Dragon Age II digubah oleh Inon Zur, yang juga mengerjakan soundtrack Dragon Age: Origins. Musiknya berhasil menciptakan nuansa kelam, emosional, dan dramatis yang mendukung cerita.

Pengisi suara karakter juga mendapat pujian tinggi, terutama untuk Hawke (baik versi pria maupun wanita), Varric, dan Anders. Dialog yang emosional dan natural menjadi salah satu kekuatan utama game ini.


Kontroversi dan Penerimaan

Saat dirilis, Dragon Age II menerima respons yang beragam. Kritikus memuji cerita, karakter, dan dialog, tetapi mengkritik pengembangan yang terburu-buru, lingkungan repetitif, dan perubahan gameplay drastis.

Namun seiring waktu, banyak pemain mulai menghargai Dragon Age II sebagai game yang berani mengambil risiko naratif. Fokusnya pada tragedi personal, politik kota, dan konsekuensi jangka panjang membuatnya berbeda dari RPG fantasi kebanyakan.


Warisan dan Pengaruh

Dragon Age II memainkan peran penting dalam membangun dunia Dragon Age: Inquisition. Banyak peristiwa besar, konflik, dan karakter dari game ini memiliki dampak langsung pada sekuel berikutnya.

Karakter Hawke, konflik Mage-Templar, serta tokoh seperti Varric menjadi fondasi penting bagi perkembangan cerita seri Dragon Age secara keseluruhan.


Kesimpulan

Dragon Age II adalah game yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ia memiliki keterbatasan teknis dan desain yang terasa repetitif. Di sisi lain, game ini menyuguhkan salah satu narasi paling emosional, dewasa, dan berani dalam genre RPG.

Dengan karakter yang kompleks, pilihan moral yang sulit, serta dunia yang terasa hidup dan penuh konflik, Dragon Age II membuktikan bahwa cerita personal bisa sama kuatnya dengan kisah penyelamatan dunia.

Bagi penggemar RPG yang menyukai drama, politik, dan karakter mendalam, Dragon Age II tetap menjadi pengalaman yang layak dimainkan dan dikenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *