Seputar Dunia Game

Martha is Dead adalah game thriller psikologis buatan studio asal Italia, LKA, dan diterbitkan oleh Wired Productions. Game ini tersedia di Microsoft Windows, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, Xbox Series X/S, serta Amazon Luna.

Menggabungkan elemen misteri, tragedi, dan horor psikologis, Martha is Dead menempatkan pemain di tengah konflik pribadi dan trauma perang yang intens, dibalut dengan atmosfer kelam khas LKA. Gaya sinematik, narasi yang penuh simbolisme, dan nuansa realistik menjadikan game ini salah satu karya paling menonjol di genre psychological thriller modern.

Pada 16 Januari 2024, diumumkan bahwa Martha is Dead akan diadaptasi menjadi film live-action, memperluas kisah dan atmosfer gelapnya ke layar lebar. Adaptasi ini disebut akan tetap mempertahankan nada psikologis dan keindahan visual yang menjadi ciri khas game-nya.

Gameplay

Martha Is Dead adalah game horor psikologis berbasis narasi yang dimainkan dari sudut pandang orang pertama. Tidak seperti kebanyakan game horor yang berfokus pada pertempuran atau pelarian dari ancaman fisik, game ini menempatkan seluruh pengalamannya pada cerita, atmosfer, dan kondisi psikologis karakter utama.

Pemain berperan sebagai Giulia, seorang wanita muda yang berusaha mengungkap misteri tragis di balik kematian saudari kembarnya, Martha, di tengah kekacauan Italia era Perang Dunia II. Sepanjang permainan, tidak ada musuh yang bisa dilawan atau dibunuh; tidak ada sistem senjata atau pertempuran. Sebaliknya, pemain diarahkan untuk menyelami kisah dan trauma karakter, memecahkan teka-teki lingkungan, serta mengumpulkan petunjuk melalui eksplorasi dunia yang sangat detail dan atmosferik.

Gim ini lebih tepat digambarkan sebagai simulator berjalan dengan elemen drama psikologis dan simbolisme yang kuat. Pemain akan menjelajahi rumah keluarga, hutan, dan area sekitar danau yang diselimuti misteri, sambil menghadapi halusinasi, kenangan kelam, dan peristiwa-peristiwa yang mengaburkan batas antara kenyataan dan delusi.

Fitur penting lain adalah penggunaan fotografi sebagai mekanik utama gameplay — pemain dapat menggunakan kamera analog untuk mengambil gambar, mengembangkan film di kamar gelap, dan menganalisis hasil foto untuk mengungkap kebenaran tersembunyi. Proses ini tidak hanya menjadi aktivitas gameplay, tapi juga alat naratif yang merefleksikan kondisi mental Giulia.

Dengan tempo permainan yang lambat dan intensitas atmosfer yang tinggi, Martha Is Dead menekankan ketegangan emosional, kesepian, dan kebingungan batin ketimbang jumpscare murah. Fokusnya adalah membuat pemain merasakan trauma, kehilangan, dan ketakutan eksistensial karakter utama — menjadikannya pengalaman yang lebih personal dan mengganggu dibandingkan game horor tradisional.

Cerita

Martha Is Dead berlatar di akhir Perang Dunia II, di sebuah kota fiksi di wilayah Tuscany, Italia, yang saat itu diduduki oleh pasukan Jerman. Kisahnya berpusat pada dua saudari kembar identik, Martha dan Giulia, yang dibesarkan di rumah besar keluarga mereka di tepi danau bersama pengasuh setia mereka. Sejak kecil, Martha diketahui tuli, sementara ayah mereka, Erich, adalah seorang jenderal di tentara Jerman.

Sejak awal, permainan sudah menanamkan nuansa kelam melalui legenda White Lady — roh seorang wanita yang bunuh diri di danau setelah dikhianati kekasihnya. Cerita ini menjadi simbol yang terus menghantui Giulia sepanjang perjalanan.

Suatu sore, Giulia meminta Martha menemaninya ke danau untuk memotret kabut pagi. Namun, keesokan harinya, Martha menghilang. Saat Giulia pergi ke danau sendirian, ia menemukan mayat saudara kembarnya terapung di air. Ketika orang tua mereka datang, sang ibu, Irene, salah mengenali Giulia sebagai Martha — dan sejak saat itu, Giulia terpaksa menjalani kehidupan sebagai saudara kembarnya yang telah mati.

Setelah tragedi itu, kondisi mental Giulia perlahan memburuk. Ia mulai mengalami halusinasi, mendengar bisikan dan melihat bayangan yang tak bisa dijelaskan. Di hutan dekat rumah, ia menemukan mayat kekasihnya, Lapo, seorang anggota pasukan perlawanan Italia. Kematian Lapo memperburuk trauma Giulia, sementara ibunya semakin menunjukkan perilaku keras dan kejam terhadapnya.

Giulia mulai curiga bahwa Irene mungkin terlibat dalam kematian Martha. Ia mencari cara untuk berkomunikasi dengan roh White Lady melalui ritual dan kartu tarot, berharap mendapat jawaban. Ritual itu menuntunnya ke sebuah kotak perhiasan milik Martha, yang berisi surat pengakuan mengejutkan: Martha sebenarnya tidak benar-benar tuli. Ia berpura-pura sejak kecil setelah membuat ibunya takut, dan merasa bersalah karena diperlakukan lebih istimewa dibanding Giulia. Dalam surat itu, Martha mengaku hanya ingin memancing kemarahan Irene, agar ibunya secara tidak sengaja membunuhnya — sehingga Giulia bisa “bebas” menjalani hidup sebagai dirinya.

Setelah membaca surat itu, Giulia kehilangan kendali. Dalam keadaan delusi, ia membongkar makam Martha dan mengeluarkan janin dari tubuh saudara kembarnya — hasil hubungan Martha dengan Lapo. Keadaan semakin memburuk saat Irene berusaha mengirim Giulia ke rumah sakit jiwa. Dalam kemarahan dan paranoia, Giulia menembak ibunya, lalu terjebak di rumah ketika bom menghantam wilayah tersebut, memadamkan seluruh listrik.

Dalam suasana suram dan sunyi, Giulia kembali ke kamar masa kecilnya, tempat ia memainkan teater boneka — di sinilah semua potongan ingatannya mulai terhubung. Melalui boneka-boneka itu, terungkap bahwa Giulia-lah yang sebenarnya membunuh Martha, bukan Irene.

Tak lama kemudian, pasukan perlawanan Italia datang dan menangkap Giulia serta ayahnya, Erich. Dalam penyiksaan brutal, Erich tewas, sementara Giulia kembali ke rumah sendirian. Di kamar gelapnya, ia menemukan rekaman pengakuan Irene, yang mengungkap kebenaran terakhir: Giulia tidak pernah benar-benar ada. Ia hanyalah kepribadian lain dari Martha — sebuah manifestasi psikologis akibat kekerasan dan tekanan emosional yang dialami sejak kecil.

Martha membagi dirinya menjadi dua sosok:

  • Martha, sisi lembut dan penurut.
  • Giulia, sisi pemberontak dan penuh trauma yang lahir dari kebencian ibunya.

Dalam akhir kisah, Giulia (atau Martha) menerima panggilan telepon dari pendeta yang menyuruhnya datang ke gereja. Ketika ia tiba, staf rumah sakit jiwa menjemput dan membawanya pergi. Di dalam pikirannya, Giulia berbicara dengan alter egonya — mencoba membedakan mana kenangan nyata dan mana hasil delusi. Tak peduli pilihan pemain, cerita berakhir dengan Giulia mengiris pergelangan tangannya, diiringi narasi terakhir bahwa ia “telah sembuh” dan “melupakan masa lalu.”

Penerimaan

Martha Is Dead menerima ulasan yang beragam atau rata-rata dari para kritikus, sebagaimana tercatat di agregator ulasan Metacritic. Mayoritas pengulas memuji atmosfer psikologisnya yang intens, narasi gelap yang penuh simbolisme, serta keberanian permainan ini dalam mengeksplorasi tema trauma, identitas, dan gangguan mental. Visual realistis dan tata suara yang mencekam juga diakui berhasil memperkuat rasa tidak nyaman yang menjadi inti pengalaman bermain.

Namun, kritik juga muncul terhadap alur cerita yang membingungkan, pacing yang lambat, serta mekanisme gameplay yang terbatas—lebih menyerupai walking simulator ketimbang gim interaktif penuh aksi. Beberapa pengulas menilai bahwa permainan ini terlalu bergantung pada elemen kejutan visual dan adegan disturbing, yang terkadang terasa dibuat untuk memancing sensasi ketimbang mendukung cerita.

Kontroversi besar muncul ketika versi PlayStation dari game ini mengalami sensor. Beberapa adegan grafis yang sebelumnya interaktif, seperti momen mutilasi diri dan referensi seksual eksplisit, dihapus atau diubah agar sesuai dengan kebijakan Sony. Versi yang dirilis di PC dan Xbox tidak mengalami pemotongan, dan tetap menampilkan konten asli seperti visi kreatif SadSquare Studio.

Meski memicu perdebatan, banyak penggemar horor memuji Martha Is Dead karena keberaniannya menghadirkan pengalaman psikologis yang ekstrem dan penuh makna simbolik—menjadikannya salah satu judul paling unik dan kontroversial dalam genre horor modern.

Perkembangan

Proyek Martha Is Dead dikembangkan oleh LKA, studio asal Italia yang sebelumnya dikenal lewat The Town of Light—sebuah game dengan tema psikologis serupa. Pengembangan dimulai sekitar tahun 2016, dengan visi untuk menciptakan pengalaman horor yang lebih berani, realistis, dan emosional dibanding karya mereka sebelumnya. Studio ini berfokus pada penggambaran trauma manusia dan gangguan mental dengan pendekatan sinematik yang intens.

Direktur kreatif sekaligus pendiri LKA, Luca Dalcò, menyebut bahwa ide utama game ini lahir dari keinginannya untuk “menjelajahi batas antara realitas, ilusi, dan rasa bersalah”. Ia ingin membuat pemain merasakan tekanan psikologis yang nyata tanpa bergantung pada jumpscare murahan. Latar Tuscany pada masa Perang Dunia II dipilih karena mencerminkan keindahan dan kehancuran secara bersamaan—dua elemen yang menggambarkan kondisi batin karakter utamanya.

Martha Is Dead dikembangkan menggunakan Unreal Engine 4, memungkinkan studio menampilkan detail lingkungan yang sangat realistis, pencahayaan alami, dan efek visual menyeramkan yang subtil. LKA juga memanfaatkan motion capture serta model 3D aktris nyata untuk menciptakan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang lebih hidup.

Selama proses pengembangan, game ini sempat menarik perhatian karena pendekatannya yang kontroversial terhadap tema kematian, trauma psikologis, dan seksualitas, yang jarang disentuh secara frontal di video game. LKA bekerja sama dengan Wired Productions sebagai penerbit global untuk memastikan distribusi lintas platform berjalan lancar.

Setelah beberapa kali penundaan, Martha Is Dead akhirnya dirilis pada 24 Februari 2022 untuk PC dan konsol. Rilisnya diwarnai perdebatan akibat sensor dari Sony terhadap versi PlayStation, di mana beberapa adegan grafis dan interaktif dihapus. Meski begitu, versi PC dan Xbox tetap dirilis tanpa pemotongan konten, mempertahankan visi asli sang pengembang.

Pasca peluncuran, LKA mengumumkan bahwa mereka berencana memperluas semesta Martha Is Dead melalui adaptasi film live-action, yang dikonfirmasi pada awal 2024, menandai langkah besar bagi studio indie Italia tersebut dalam membawa karya mereka ke media yang lebih luas.

Penutupan

Martha Is Dead berdiri sebagai salah satu karya horor psikologis paling berani yang pernah muncul dari industri game Eropa. Ia bukan sekadar permainan tentang rasa takut, tetapi perjalanan menembus trauma, kesalahan, dan batas tipis antara realitas serta delusi. Dengan visual yang mendetail, nuansa sinematik yang kuat, dan narasi gelap yang memaksa pemain menghadapi sisi tergelap manusia, game ini membedakan dirinya dari horor konvensional yang hanya mengandalkan kejutan sesaat.

Meski menuai kontroversi karena adegan brutal dan temanya yang sensitif, Martha Is Dead tetap dihargai karena keberaniannya dalam mengekspresikan emosi mentah dan kisah yang kompleks. Ia mengguncang pemain bukan lewat teror visual semata, tapi lewat ketegangan psikologis yang bertahan lama setelah permainan selesai.

Karya ini menegaskan posisi LKA sebagai studio yang tak takut menantang norma naratif dan moral dalam dunia video game. Martha Is Dead bukan hanya tentang kehilangan seorang saudari — melainkan tentang kehilangan jati diri, realitas, dan batas waras manusia. Sebuah pengalaman yang sunyi, lambat, namun meninggalkan bekas mendalam bagi siapa pun yang berani menatap kebenaran di balik topengnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *