My Child Lebensborn: Mengasuh Anak di Tengah Warisan Kebencian
My Child Lebensborn adalah game naratif berbasis pengasuhan yang terinspirasi dari peristiwa nyata pasca Perang Dunia II. Berbeda dari kebanyakan game yang menonjolkan aksi atau tantangan mekanis, game ini mengajak pemain merasakan pengalaman emosional sebagai orang tua angkat dari seorang anak bernama Karin atau Klaus. Melalui pilihan-pilihan sederhana namun bermakna, pemain akan menyaksikan dan ikut merasakan perjuangan seorang anak yang harus tumbuh di tengah kebencian, stigma, dan trauma sejarah yang tidak pernah ia pilih.
Game ini bukan tentang kemenangan atau kekalahan, melainkan tentang empati, tanggung jawab, dan ketahanan batin.

Terinspirasi dari Peristiwa Nyata
My Child Lebensborn berakar dari kisah nyata anak-anak Lebensborn, yaitu anak-anak yang lahir dari program Nazi pada masa Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, mereka tidak mendapatkan simpati sebagai korban, melainkan justru menerima diskriminasi, kekerasan verbal, dan pengucilan sosial—terutama di negara-negara seperti Norwegia, yang menjadi latar utama game ini.







Dalam game, pemain mengadopsi Karin atau Klaus dan membesarkannya di masa damai yang ternyata masih menyimpan luka perang. Meski senjata telah disimpan, kebencian masih hidup di masyarakat, dan anak inilah yang menjadi sasaran paling lemah.
Sudut Pandang Orang Tua Angkat
Hal yang membuat My Child Lebensborn begitu kuat adalah sudut pandangnya. Pemain tidak berperan sebagai korban perang, tentara, atau pahlawan, melainkan sebagai orang tua—seseorang yang ingin melindungi anaknya, tetapi memiliki keterbatasan.







Setiap hari, kamu akan menjalani rutinitas sederhana: bekerja untuk mendapatkan uang, memasak, mengajak anak bermain, dan berbincang dengannya. Namun di balik aktivitas tersebut, selalu ada ketegangan emosional. Karin atau Klaus sering pulang dari sekolah dengan perasaan sedih, marah, atau bingung karena perlakuan orang-orang di sekitarnya.
Sebagai orang tua, kamu harus memilih kata-kata dengan hati-hati. Satu jawaban bisa membangun kepercayaan diri anak, sementara jawaban lain bisa membuatnya semakin merasa tidak berharga.

Gameplay Berbasis Pengasuhan dan Pilihan
Gameplay My Child Lebensborn berfokus pada manajemen waktu dan sumber daya, serta pengambilan keputusan emosional. Setiap hari memiliki waktu terbatas, sehingga pemain harus menentukan prioritas:

- Apakah kamu akan bekerja lebih lama demi uang?
- Atau pulang lebih awal untuk menemani anak?
- Apakah kamu akan menghibur anak dengan kenyamanan sementara?
- Atau menjelaskan kebenaran pahit tentang masa lalunya?



Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar. Setiap pilihan membawa konsekuensi jangka pendek maupun panjang terhadap kondisi emosional anak.
Membantu Anak Menghadapi Kebencian
Inti dari My Child Lebensborn adalah membantu anak menghadapi kebencian yang tidak ia pahami dan tidak pernah ia sebabkan. Karin atau Klaus mengalami perundungan, fitnah, dan perlakuan tidak adil dari teman sebaya maupun orang dewasa.

Anak dapat menunjukkan berbagai reaksi:
- Menarik diri dan menjadi pendiam
- Meledak dalam kemarahan
- Menyalahkan diri sendiri atas perlakuan orang lain

Tugas pemain bukan menghapus semua rasa sakit itu—karena sering kali hal tersebut mustahil—melainkan menjadi tempat aman, seseorang yang mau mendengar dan tetap ada ketika dunia terasa kejam.

Tantangan Emosional, Bukan Mekanis
Tidak ada musuh yang harus dikalahkan atau teka-teki kompleks yang harus dipecahkan. Tantangan utama dalam My Child Lebensborn adalah ketahanan emosional pemain sendiri. Game ini menguji kesabaran, empati, dan kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua masalah memiliki solusi sempurna.

Momen-momen bahagia hadir dalam bentuk kecil: senyum singkat, gambar buatan anak, atau tawa sederhana. Justru karena jarang, momen-momen ini terasa sangat berharga.
Gaya Visual dan Atmosfer
Secara visual, My Child Lebensborn menggunakan gaya gambar tangan yang sederhana. Warna lembut dan desain minimalis membuat pemain fokus pada ekspresi wajah dan bahasa tubuh karakter.

Perubahan kecil pada ekspresi Karin atau Klaus sering kali menyampaikan lebih banyak emosi daripada dialog panjang. Kesederhanaan ini memperkuat kesan realistis dan menyentuh.




Dari sisi audio, musik digunakan secara hemat. Banyak adegan dibiarkan dalam keheningan, membuat emosi terasa lebih berat dan nyata. Ketika musik muncul, nadanya lembut dan melankolis, memperkuat suasana tanpa terasa berlebihan.
Pesan Sosial yang Kuat
My Child Lebensborn menyampaikan pesan sosial yang sangat relevan:
- Anak-anak tidak boleh mewarisi dosa perang
- Kebencian kolektif dapat melukai generasi berikutnya
- Kasih sayang tidak selalu menyembuhkan segalanya, tetapi sangat penting untuk bertahan





Game ini mengajak pemain merenungkan bagaimana masyarakat memperlakukan korban konflik, serta bagaimana trauma bisa diwariskan jika tidak dihadapi dengan empati.
Kesimpulan
My Child Lebensborn adalah game yang sunyi, berat, dan emosional—namun sangat bermakna. Dengan menempatkan pemain sebagai orang tua angkat Karin atau Klaus, game ini menghadirkan pengalaman yang jarang ditemui di dunia video game.












Ini bukan game untuk mencari kesenangan cepat, melainkan pengalaman reflektif tentang kemanusiaan, tanggung jawab, dan cinta di tengah dunia yang penuh luka. My Child Lebensborn membuktikan bahwa video game juga bisa menjadi medium untuk memahami sejarah, empati, dan penderitaan manusia secara mendalam.
