Senua’s Saga: Hellblade II adalah game aksi-petualangan yang dirilis pada 2024, dikembangkan oleh Ninja Theory dan diterbitkan oleh Xbox Game Studios. Sebagai sekuel dari Hellblade: Senua’s Sacrifice (2017), game ini membawa pemain kembali mengikuti perjalanan Senua, kali ini berlatar di Islandia abad ke-9 dengan nuansa yang kental terinspirasi dari mitologi serta budaya Nordik.
Dibandingkan pendahulunya, seri kedua ini dikembangkan dengan tim yang lebih besar dan anggaran produksi yang jauh lebih tinggi. Mekanisme permainannya tetap mempertahankan inti—pertarungan berbasis kombo dan teka-teki lingkungan—namun disempurnakan dengan sistem pertarungan yang lebih cepat dan visual sinematik yang dibangun di atas Unreal Engine 5. Selain itu, elemen horor psikologis dan tema perjuangan Senua melawan psikosis tetap menjadi fokus utama.
Game ini pertama kali dirilis untuk Windows dan Xbox Series X/S pada 21 Mei 2024. Versi PlayStation 5 menyusul pada 12 Agustus 2025, bersamaan dengan pembaruan besar bertajuk Enhanced Update yang menghadirkan Mode Performa dengan framerate lebih tinggi, penambahan Mode Permainan baru, serta fitur Mode Foto untuk menangkap momen sinematik dalam petualangan Senua.
Secara umum, Hellblade II menuai ulasan positif dari kritikus. Visual, arahan seni, dan desain suara digadang-gadang sebagai pencapaian kelas atas, benar-benar mendukung atmosfer imersif khas serinya. Meski begitu, beberapa ulasan menyoroti tempo permainan yang lambat serta sistem pertarungan yang lebih mengedepankan tampilan sinematik ketimbang kedalaman mekanik.
Permainan
Senua’s Saga: Hellblade II adalah game aksi-petualangan orang ketiga yang melanjutkan konsep dari seri sebelumnya, dengan fokus pada teka-teki lingkungan, simbol rune, dan eksplorasi yang kerap terhubung dengan kondisi mental Senua. Kali ini, sistem pertarungannya hadir dengan banyak pembaruan, membuat pengalaman bermain terasa lebih intens dan sinematik.
Game ini menampilkan sistem cuaca dinamis dan fisika realistis yang langsung memengaruhi jalannya permainan. Medan yang dijelajahi pemain terasa hidup—dari lereng licin bersalju, hingga garis pantai yang dihantam badai—semuanya menambah tantangan dalam pertarungan maupun eksplorasi.
Pertarungan dirancang agar lebih fluid dan strategis. Gerakan Senua kini lebih beragam dengan variasi gaya bertarung, termasuk kemampuan memperlambat waktu untuk mengeksekusi serangan cepat. Setiap musuh punya pola unik dan kelemahan tersendiri, sehingga pemain dituntut untuk cepat beradaptasi serta memanfaatkan taktik berbeda agar bisa bertahan hidup.

Selain itu, eksplorasi tetap jadi bagian penting. Pemain bisa menemukan koleksi tersembunyi seperti wajah-wajah mistis atau pos Lorestangir yang memperdalam pengetahuan tentang dunia permainan. Teka-teki hadir lebih organik karena terintegrasi langsung dengan lingkungan, misalnya lewat penguraian rune atau manipulasi elemen alam untuk membuka jalur baru.
Sama seperti pendahulunya, unsur horor psikologis tetap kuat. Suara-suara dalam kepala Senua kembali hadir, berfungsi ganda sebagai pemandu sekaligus sumber tekanan mental, membuat pengalaman terasa intens, personal, dan imersif.
Alur Cerita
Pada abad ke-9, Senua—seorang pejuang dari Orcadia—ditangkap oleh bangsa Nordik yang memperbudak rakyatnya. Dalam perjalanan melintasi laut menuju Islandia, badai besar menghancurkan kapal-kapal mereka, dan Senua terdampar di tepi pantai yang asing. Dalam perjalanan mencari jalan pulang, ia dihantui halusinasi yang sangat nyata, serta bisikan-bisikan suara dalam kepalanya yang terus mendorong atau melemahkannya, termasuk bayangan sang ayah yang penuh kekejaman.
Di perjalanannya, Senua berhasil menaklukkan seorang musuh bernama Thórgestr dan menjadikannya tawanan. Namun, ketika mereka melintasi sebuah permukiman yang hancur, Thórgestr menuding kehancuran itu disebabkan oleh draugar—pasukan kanibal buas yang menjadi momok penduduk. Menelusuri jejak mereka, Senua menemukan dan membebaskan Fargrímr, seorang pria yang kemudian menjadi sekutu penting dalam misinya. Sayangnya, draugar memanggil raksasa Illtauga, yang menimbulkan tanah longsor besar. Bersama Fargrímr, Senua lolos, lalu memilih membebaskan Thórgestr setelah merasakan masih ada kebaikan dalam dirinya.
Fargrímr mengungkapkan bahwa letusan gunung Askja telah membuka celah antara Midgard dan Jötunheimr, sehingga para raksasa bisa masuk ke dunia manusia. Borgarviki, kampung halaman Thórgestr, bahkan mengorbankan budak untuk menenangkan ancaman raksasa. Karena Senua dianggap mampu mendengar suara gaib, Fargrímr percaya ia adalah peramal dan mengutusnya mencari Hiddenfolk, makhluk misterius yang tinggal di bawah tanah. Setelah melalui serangkaian ujian, Hiddenfolk mengungkapkan asal mula bencana: Askja merusak tanah dan langit, memicu kelaparan, serta lahirnya dewa baru yang penuh murka. Dari sana, Senua mengetahui bahwa Illtauga dulunya adalah seorang wanita bernama Ingunn, yang karena keputusasaan mencari kekuatan Askja, akhirnya berubah menjadi raksasa. Dengan mengembalikan tulang bayinya, Senua berhasil mematahkan kutukan Illtauga dan mengubahnya menjadi batu. Kemenangan ini membuat Thórgestr akhirnya memutuskan untuk bergabung dengannya.
Bersama Fargrímr dan Thórgestr, Senua menuju Baroarvik. Di sana, pemimpin desa bernama Ástríðr meminta mereka membasmi Sjávarrisi, raksasa laut yang merusak wilayah pantai. Hiddenfolk menjelaskan bahwa Sjávarrisi sebenarnya adalah manusia yang pernah dikhianati dan dibuang oleh kaumnya, lalu akhirnya ditelan lautan dan menjadi raksasa. Meski sempat diliputi rasa bersalah atas banyak korban jiwa, Senua berhasil membebaskan Sjávarrisi dari penderitaannya dan mengubahnya menjadi batu.
Perjalanan berlanjut ke hutan gelap Járnviðr, tempat Senua harus menuntun para sekutunya melewati ketakutan yang menguasai mereka. Setibanya di Borgarviki, Senua dan Thórgestr berhadapan langsung dengan goði, ayah Senua sekaligus pemimpin kejam yang menggunakan ancaman raksasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Saat rakyatnya mulai memberontak, sang goði berusaha mengorbankan Senua, namun Thórgestr mengorbankan dirinya demi menyelamatkannya. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, ia memperingatkan Senua bahwa membunuh sang goði hanya akan melahirkan penguasa tiran baru.
Didorong oleh suara-suara dalam kepalanya, Senua sempat tergoda untuk mengambil alih kekuasaan dan menjadi pemimpin yang memerintah lewat ketakutan. Namun, ia memilih jalan berbeda—menolak menjadi bayangan ayahnya, dan memutus lingkaran kekejaman dengan merangkul ingatan orang-orang yang telah ia selamatkan.
Perkembangan
Senua’s Saga: Hellblade II digarap langsung oleh Ninja Theory, studio yang sebelumnya melahirkan Hellblade: Senua’s Sacrifice (2017). Setelah studio ini diakuisisi Microsoft pada 2018 dan resmi jadi bagian dari Xbox Game Studios, skala pengembangannya membesar jauh. Kalau gim pertama hanya dikerjakan sekitar 20 orang, kali ini jumlahnya melonjak menjadi hampir 100 staf, dengan mayoritas fokus penuh ke proyek sekuel.

Tameem Antoniades, salah satu pendiri sekaligus direktur kreatif Ninja Theory, sempat memimpin arah kreatif awal. Terinspirasi dari perjalanannya ke Islandia, ia ingin menjadikan lanskap negara tersebut sebagai latar utama. Ia menggambarkannya sebagai “taman tema geologi” yang unik, sementara pimpinan studio Dom Matthews menyebut proyek ini sebagai “surat cinta untuk Islandia.” Setelah Antoniades meninggalkan studio, kepemimpinan berpindah ke David Garcia (direktur audio), Mark Slater-Tunstill, dan Dan Attwell (direktur seni lingkungan).
Visi naratif kali ini bergeser: bukan hanya soal pergulatan Senua dengan psikosisnya, tapi juga bagaimana kondisinya itu memengaruhi interaksinya dengan dunia luar. Untuk menjaga representasi yang akurat, tim kembali bekerja sama dengan profesor Cambridge Paul Fletcher serta orang-orang yang memang hidup dengan psikosis. Melina Jürgens, pemeran sekaligus pengisi suara Senua, menekankan bahwa kisahnya bukan tentang “kesembuhan penuh”, tapi perjalanan seorang penyintas yang bisa menjadikan kondisinya sebagai kekuatan. Demi mendalami peran, Jürgens bahkan menjalani pelatihan bela diri, belajar anggar, hingga syuting motion capture dengan kostum penuh yang aplikasinya bisa makan waktu delapan jam. Para animator juga ikut berlatih ala militer untuk memastikan gerakan musuh realistis.

Pertarungan jadi fokus besar. Ninja Theory ingin menciptakan sistem combat yang organik dengan cerita, terinspirasi dari koreografi brutal Game of Thrones episode “Battle of the Bastards.” Mereka merekam ratusan animasi perkelahian lewat sesi motion capture yang berlangsung selama 75 hari. Tujuannya: pertarungan yang terasa intens, mendesak, dan tidak tertebak.
Secara teknis, Hellblade II dibangun dari nol dengan Unreal Engine 5, menggantikan Unreal Engine 4 di gim pertama. Peningkatan ini memungkinkan detail visual, animasi, dan model karakter jauh lebih realistis. MetaHuman dari Epic Games dipakai untuk animasi wajah, sementara kolaborasi dengan 3Lateral dan Ziva Dynamics menambahkan kedalaman ekspresi dan efek fisik. Bahkan AI voice dari Altered AI digunakan di tahap awal produksi. Frame rate di Xbox Series X/S dikunci di 30 fps untuk menjaga kesan sinematik.

Untuk latar, tim merekonstruksi Islandia abad ke-9 dengan memanfaatkan data satelit, riset arkeologi, hingga desain kostum berbasis bahan autentik yang kemudian dipindai ke model 3D. Attwell menyebut pendekatan mereka banyak terinspirasi dari gaya penyutradaraan Robert Eggers, yang dikenal sangat ketat pada detail sejarah. Audio tetap jadi pilar penting, dengan teknik rekaman binaural untuk meniru bisikan psikosis Senua, sementara grup musik Heilung dipercaya mengisi soundtrack dengan gaya eksperimental yang kental nuansa Nordik.
Penerimaan
Senua’s Saga: Hellblade II mendapat tanggapan umumnya positif dari para kritikus, menurut agregator ulasan Metacritic. Banyak yang memuji visualnya yang menakjubkan, atmosfer imersif, dan cara game ini melanjutkan kisah Senua, meski ada catatan soal tempo serta sistem pertarungan yang lebih menonjolkan tontonan daripada kedalaman.
Tristan Ogilvie dari IGN menyebut Hellblade II sebagai “perjalanan enam jam melintasi Midgard” yang dipenuhi rangkaian aksi sinematik, lanskap Nordik yang menawan, serta pertemuan dengan teror berukuran raksasa. Ia menyoroti performa Melina Juergens sebagai Senua, yang berhasil menggambarkan tekad keras melawan ketakutan dan kebencian diri. Menurutnya, lokasi yang ditampilkan bervariasi mulai dari gua gelap penuh darah hingga puncak gunung di bawah aurora. IGN memberi nilai 8/10, dengan pujian pada narasi dan presentasi, namun menilai sistem pertarungan lebih condong ke aspek sinematik ketimbang kedalaman mekanis.
Johnny Chiodini dari Eurogamer menilai sekuel ini berhasil melanjutkan kisah Senua dengan “keanggunan, kepercayaan diri, dan brutalitas yang mengejutkan.” Ulasannya menekankan bahwa fokus narasi kini bergeser: bukan lagi tentang melawan penyakit mental, tetapi tentang bagaimana seseorang dengan kondisi psikosis bisa menjalani perjalanan besar. Eurogamer memuji perkembangan karakter Senua yang kini lebih welas asih dan mampu mengelola kondisinya, alih-alih sekadar melawannya.
GamesRadar+ menggambarkan Hellblade II sebagai pengalaman yang “menghantui, konfrontatif, sekaligus katarsis.” Grafis serta desain suara dinilai menciptakan imersi luar biasa, sementara struktur cerita menambah bobot pada teka-teki dan eksplorasi. Meski ada beberapa masalah tempo, menurut mereka sekuelnya tampil lebih menakutkan, padat, dan impresif dibanding pendahulunya.
Tom Bardwell dari VideoGamer.com menyebut judul ini sebagai karya yang “suram, menyedihkan, namun tak terlupakan.” Ia menekankan kualitas sinematik Hellblade II, terutama transisi mulus antara gameplay dan cutscene, serta bagaimana desain suara menyatu dengan tema-tema gelap permainan. Visual yang memukau dan eksplorasi tematiknya dianggap memperkuat kesan mendalam sepanjang pengalaman bermain.




