Pendahuluan
The Forgotten City adalah sebuah game petualangan naratif yang unik, lahir dari sebuah mod populer untuk The Elder Scrolls V: Skyrim dan kemudian berkembang menjadi game mandiri yang mendapat banyak pujian kritikus. Dikembangkan oleh Modern Storyteller dan dirilis secara penuh pada tahun 2021, game ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari kebanyakan game petualangan. Alih-alih mengandalkan aksi cepat, The Forgotten City menekankan eksplorasi cerita, dialog mendalam, teka-teki berbasis logika, serta dilema moral yang menggugah pemikiran. Dengan latar kota Romawi kuno yang terperangkap dalam lingkaran waktu, pemain diajak untuk mengungkap rahasia besar di balik sebuah kutukan yang mengancam semua penghuninya.

Latar Cerita dan Konsep Utama
Cerita The Forgotten City dimulai ketika karakter utama—yang dapat dipilih jenis kelaminnya—terjebak di sebuah kota Romawi misterius yang tersembunyi jauh di masa lalu. Kota ini berada di bawah sebuah aturan ilahi yang dikenal sebagai Golden Rule. Aturan ini sangat sederhana namun mematikan: jika satu orang saja melakukan dosa, maka seluruh kota akan dihukum dan berubah menjadi emas.
Masalahnya, definisi “dosa” tidak selalu jelas. Penduduk kota hidup dalam ketakutan, saling mencurigai, dan terjebak dalam konflik kepentingan. Pemain diberi kemampuan untuk memutar kembali waktu ke awal hari setiap kali Golden Rule dilanggar, menciptakan mekanisme time loop yang menjadi inti gameplay. Dari sinilah pemain harus menyelidiki, berbicara dengan penduduk, dan mencari cara untuk mematahkan kutukan tanpa menyebabkan kehancuran total.

Gameplay: Eksplorasi dan Dialog sebagai Kunci
The Forgotten City bukanlah game yang mengandalkan pertarungan intens. Walaupun terdapat elemen aksi ringan, fokus utamanya adalah eksplorasi dan dialog. Pemain akan menjelajahi berbagai area kota—mulai dari pemandian, kuil, pasar, hingga terowongan rahasia—untuk mengumpulkan informasi dan petunjuk.
Dialog memainkan peran yang sangat penting. Setiap karakter memiliki latar belakang, motivasi, dan rahasia masing-masing. Pilihan dialog yang diambil pemain dapat membuka jalur cerita baru, menutup kemungkinan tertentu, atau bahkan memicu pelanggaran Golden Rule. Sistem dialog yang cerdas ini membuat setiap percakapan terasa bermakna dan mendorong pemain untuk benar-benar memperhatikan setiap detail.
Teka-Teki Berbasis Logika

Berbeda dengan teka-teki konvensional yang hanya mengandalkan mekanik fisik, teka-teki dalam The Forgotten City lebih bersifat naratif dan logis. Pemain sering kali harus menghubungkan informasi dari berbagai sumber, memahami hubungan antar karakter, serta memanfaatkan loop waktu untuk mencoba berbagai pendekatan.
Sebagai contoh, informasi yang diperoleh dari satu karakter di satu loop waktu dapat digunakan untuk memengaruhi keputusan karakter lain di loop berikutnya. Pendekatan ini membuat pemain merasa seperti seorang detektif yang perlahan menyusun potongan puzzle besar. Rasa kepuasan saat berhasil menemukan solusi terasa sangat kuat karena solusi tersebut lahir dari pemahaman, bukan sekadar refleks.
Tema Moral dan Filosofis

Salah satu kekuatan terbesar The Forgotten City terletak pada tema moral dan filosofis yang diangkat. Game ini banyak terinspirasi oleh filsafat klasik, terutama konsep keadilan, hukuman kolektif, dan kebebasan kehendak. Golden Rule menjadi simbol dari sistem hukum absolut yang tidak mengenal konteks atau niat.
Pemain sering dihadapkan pada pertanyaan sulit: apakah adil menghukum banyak orang atas kesalahan satu individu? Apakah sebuah aturan mutlak benar hanya karena berasal dari kekuatan ilahi? Melalui pilihan-pilihan yang diambil, pemain tidak hanya memengaruhi akhir cerita, tetapi juga diajak untuk merenungkan nilai-nilai moral dalam kehidupan nyata.
Visual dan Atmosfer

Secara visual, The Forgotten City tampil dengan gaya realistis yang terinspirasi oleh arsitektur Romawi kuno. Detail bangunan, patung, dan lingkungan kota dibuat dengan penuh perhatian, menciptakan atmosfer yang imersif. Pencahayaan memainkan peran penting dalam membangun suasana, dari sinar matahari yang hangat hingga area gelap yang penuh misteri.
Desain suara dan musik latar juga mendukung nuansa game dengan sangat baik. Musik yang tenang namun misterius mengiringi eksplorasi, sementara efek suara lingkungan membantu menghidupkan kota yang terasa “hidup” meskipun terjebak dalam kutukan.
Banyak Akhir Cerita
The Forgotten City menawarkan beberapa ending berbeda, tergantung pada pilihan dan tindakan pemain sepanjang permainan. Setiap ending memberikan sudut pandang yang unik terhadap cerita dan tema yang diangkat. Hal ini mendorong pemain untuk bermain ulang dan mencoba pendekatan berbeda, menjadikan nilai replayability game ini cukup tinggi meskipun durasinya relatif singkat.
Menariknya, tidak ada ending yang terasa sepenuhnya “benar” atau “salah”. Setiap akhir memiliki konsekuensi dan pesan moral tersendiri, memperkuat kesan bahwa game ini tidak hanya ingin menghibur, tetapi juga mengajak pemain berpikir.

Kesimpulan
The Forgotten City adalah contoh sempurna bagaimana sebuah game dapat menjadi media penceritaan yang kuat dan bermakna. Dengan menggabungkan eksplorasi, dialog mendalam, teka-teki berbasis logika, serta tema moral yang kompleks, game ini menawarkan pengalaman yang jarang ditemui di industri game modern.
Bagi pemain yang menyukai game dengan cerita kuat, pilihan bermakna, dan tantangan intelektual, The Forgotten City adalah sebuah karya yang wajib dimainkan. Lebih dari sekadar petualangan, game ini adalah sebuah refleksi tentang hukum, moralitas, dan konsekuensi dari setiap pilihan yang kita buat.

