Seputar Dunia Game

City of Brass adalah game first-person dungeon crawler berbasis single-player yang mengambil latar di kota bertema Arabian Nights penuh koridor, halaman, dan ruangan yang dibuat secara prosedural. Pemain berperan sebagai seorang pencuri yang berusaha mencapai harta karun legendaris di jantung kota mistis yang dipenuhi jebakan mematikan dan musuh supernatural.

Game ini dikembangkan oleh Uppercut Games, studio independen asal Australia, dan pertama kali diumumkan pada 6 Juli 2017 untuk Microsoft Windows, PlayStation 4, dan Xbox One. Versi Windows dirilis lebih dulu melalui program Steam Early Access pada 18 September 2017, sebelum kemudian mendapatkan perilisan penuh di berbagai platform.

Dengan perpaduan elemen roguelike, aksi cepat, dan gaya visual bergaya Timur Tengah klasik, City of Brass menghadirkan pengalaman eksplorasi dan pertarungan yang menantang, di mana setiap langkah menuju harta karun bisa menjadi yang terakhir.

Gameplay

Dalam City of Brass, pemain mengendalikan seorang pencuri bersenjata pedang scimitar dan cambuk, yang masing-masing memiliki peran penting dalam pertarungan dan eksplorasi. Scimitar digunakan untuk serangan jarak dekat, sementara cambuk berfungsi multifungsi—dapat digunakan untuk menyambar benda, menjatuhkan atau melucuti musuh, memecahkan penghalang, mengaktifkan perangkap atau tuas, serta berayun melintasi celah.

Setiap level memiliki batas waktu, memaksa pemain bergerak cepat menuju pusat kota sambil menghindari jebakan, bertarung melawan makhluk undead, dan mengumpulkan harta karun untuk meningkatkan skor. Lingkungan juga bisa dimanfaatkan sebagai senjata; misalnya, melempar vas, batu bata, atau memancing musuh ke dalam perangkap.

Kematian bersifat permanen—begitu karakter mati, pemain harus memulai ulang dari awal, menambah unsur roguelike pada setiap permainan.

Menurut pengembang, sistem gameplay City of Brass dirancang agar pemain dapat menggabungkan berbagai mekanik secara kreatif. Contohnya, menyetrum musuh dengan cambuk lalu menebasnya dengan pedang, menyeret musuh ke dalam jebakan, atau memanfaatkan serangan musuh untuk menghancurkan lawan lainnya.

Selama masa Early Access, pengembang merilis lebih dari 10 pembaruan besar, menambahkan lingkungan baru, jenis musuh, senjata, relik, serta melakukan penyesuaian keseimbangan permainan berdasarkan umpan balik komunitas.

Pengembangan

Tim pengembang City of Brass terdiri dari mantan anggota 2K Australia yang sebelumnya bekerja pada seri BioShock dan BioShock 2. Pengalaman mereka di sana berpengaruh besar terhadap perpaduan gaya gameplay yang menonjol di City of Brass — menggabungkan aksi orang pertama yang intens dengan desain dunia penuh atmosfer.

Setelah mengembangkan game sebelumnya, Submerged, tim Uppercut Games merasa bahwa pembuatan level secara manual memakan banyak waktu dan sumber daya. Karena itu, mereka memutuskan untuk bereksperimen dengan prosedural generation, yang memungkinkan pembuatan level dinamis dengan struktur dan tata letak yang selalu berubah di setiap permainan.

Menurut desainer Ed Orman, pendekatan ini memberi mereka waktu lebih untuk memoles elemen modular, sehingga setiap bagian dunia terlihat detail dan tetap terasa “buatan tangan”. Ia dan Andrew James, sang seniman utama, membahas teknik ini dalam presentasi bertajuk Procedural Generation in City of Brass di acara GCAP 2017.

Dalam presentasi tersebut, mereka menjelaskan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang dapat dipercaya dan menyenangkan dimainkan, dengan sistem yang menghasilkan level secara real-time berdasarkan satu “seed” algoritmik. Untuk mencapainya, tim menggunakan versi modifikasi dari plug-in Dungeon Architect untuk Unreal Engine 4, yang mereka tingkatkan dengan proses “walking the perimeter” — yakni meninjau setiap level hasil generasi otomatis untuk memperbaiki tata letak dan meningkatkan pengalaman bermain.

Rilis

City of Brass pertama kali dirilis dalam tahap Early Access untuk PC pada September 2017 melalui Steam. Setelah melalui berbagai pembaruan dan penyempurnaan berdasarkan umpan balik komunitas, versi penuh game ini kemudian dirilis untuk PlayStation 4 pada 4 Mei 2018, disusul oleh versi Xbox One di periode yang sama.

Dengan peluncuran resminya di berbagai platform, City of Brass membawa pengalaman roguelike first-person yang unik ke audiens yang lebih luas, menawarkan perpaduan antara aksi cepat, eksplorasi menegangkan, dan suasana mistis khas Timur Tengah.

Penerimaan

Versi City of Brass untuk PlayStation 4 yang dirilis pada 4 Mei 2018 memperoleh skor 66/100 di Metacritic, sementara versi Xbox One sedikit lebih tinggi dengan 67/100, dan versi PC menerima 69/100.

Kritikus umumnya memuji gaya visual khas Arabian Nights dan mekanika senjata, terutama penggunaan cambuk, yang dianggap sebagai elemen paling menarik dalam gameplay. Destructoid dan PC Gamer sama-sama menilai sistem cambuk sebagai fitur unggulan yang memberikan dinamika unik dalam pertarungan. Rolling Stone juga memberikan ulasan positif sebelum perilisan penuh, memuji nuansa artistik dan keseimbangan gameplay-nya.

Namun, beberapa ulasan bersifat campuran. GameSpot menyoroti masalah performa, tetapi mengapresiasi keseimbangan antara tempo permainan, tingkat kesulitan, dan sistem pertarungan. Sebaliknya, IGN memberi penilaian negatif 4/10, menyebut game ini terlalu repetitif dan frustrasi. PCWorld menilai City of Brass sebagai game yang tidak menonjol namun tetap solid dan berfungsi dengan baik, menggambarkan pengalaman bermainnya sebagai menyenangkan meski tidak berkesan lama.

Penutupan

City of Brass menampilkan perpaduan menarik antara aksi cepat, dunia mistis ala Arabian Nights, dan mekanika roguelike yang menantang. Meskipun tidak luput dari kritik mengenai repetisi dan performa teknis, game ini tetap berhasil menonjol berkat sistem cambuk yang kreatif, desain visual yang memukau, dan tingkat kesulitan yang menuntut strategi.

Sebagai karya dari mantan tim BioShock, City of Brass menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan prosedural generation dan gameplay berbasis risiko, menghasilkan pengalaman yang mungkin tidak sempurna, namun memiliki pesona dan karakter tersendiri bagi penggemar dungeon crawler bergaya klasik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *