Aliens: Fireteam Elite adalah game third-person shooter yang dirilis pada tahun 2021, dikembangkan oleh Cold Iron Studio bekerja sama dengan 20th Century Games (sebelumnya dikenal sebagai 20th Century Studios milik Disney). Game ini hadir sebagai sekuel mandiri dari trilogi film Alien asli, memperluas semesta franchise ikonik tersebut ke ranah permainan kooperatif modern.
Latar dan Alur
Cerita game ini mengambil setting 23 tahun setelah film Alien ketiga, dengan pemain berperan sebagai Colonial Marine yang bertugas di atas kapal luar angkasa UAS Endeavour. Kapal ini ditugaskan untuk merespons panggilan darurat dari sebuah koloni jauh di luar angkasa. Dari sinilah misi berbahaya melawan Xenomorph dan ancaman lain dimulai.
Gameplay
Fireteam Elite menekankan pada aksi kooperatif. Pemain bisa memilih dari tujuh kelas karakter dengan gaya bermain unik:
- Gunner – fokus pada tembakan cepat dan serangan konstan.
- Demolisher – spesialis senjata berat dan ledakan.
- Technician – mengandalkan turret dan peralatan taktis.
- Doc – peran penyembuh yang penting dalam tim.
- Phalanx – membawa tameng pelindung untuk bertahan di garis depan.
- Lancer – spesialisasi senjata jarak jauh dan daya tembak tinggi.
- Recon – ahli dukungan tim dan deteksi musuh.
Game ini terbagi ke dalam empat kampanye utama, masing-masing terdiri dari tiga misi, sehingga total ada 12 misi berbasis cerita. Pemain bisa bermain bersama dua orang lain secara online, atau dengan bantuan AI jika bermain solo.
Selain itu, tersedia:
- Lima tingkat kesulitan untuk menyesuaikan tantangan.
- Lebih dari 20 jenis musuh, termasuk varian Xenomorph dan ancaman sintetik.
- Sistem kustomisasi untuk senjata dan progres karakter.
Penting dicatat, game ini tidak memiliki mode co-op lokal split screen, melainkan fokus pada matchmaking online baik publik maupun privat.
Fitur Tambahan
Cold Iron Studio memastikan bahwa Fireteam Elite bebas dari praktik monetisasi yang mengganggu: tidak ada loot box atau microtransaction. Namun, mereka merencanakan DLC pasca-rilis berupa konten tambahan untuk memperpanjang umur permainan.
Dari segi gameplay, banyak pihak membandingkan gaya aksinya dengan seri Left 4 Dead, terutama karena struktur misi kooperatif, alur penuh aksi, dan musuh yang datang berombongan.
Alur Cerita
Pada tahun 2202, kapal luar angkasa USS Endeavour menerima sinyal darurat dari stasiun kilang Katanga, sebuah fasilitas yang sebelumnya dikira sudah hancur di orbit planet LV-895. Untuk menyelidiki, regu Colonial Marines dikirim dan menemukan kenyataan pahit: stasiun itu telah sepenuhnya dikuasai oleh Xenomorph.

Di tengah kekacauan, mereka berhasil menyelamatkan satu-satunya penyintas, Dr. Timothy Hoenikker, seorang ilmuwan Weyland-Yutani. Dari Hoenikker, terungkap bahwa Weyland-Yutani selama ini diam-diam melakukan eksperimen berbahaya dengan telur Xenomorph dan zat mutagenik misterius yang mereka sebut “Patogen”. Namun, penelitian itu berakhir tragis setelah Xenomorph lepas kendali.
Penyelidikan membawa Marinir ke permukaan LV-895, di mana mereka menemukan reruntuhan peninggalan ras Engineer. Mereka juga menjalin kontak dengan Cynthia Rodriguez, ilmuwan Weyland-Yutani lainnya. Tapi kemudian terungkap bahwa Cynthia sebenarnya adalah AI Mother bernama SN/TH/YA, yang sudah tidak terkendali. Sebelum berhasil dinonaktifkan, SN/TH/YA mengaktifkan “Asset Zero”: sebuah pesawat Engineer utuh berisi muatan Patogen yang direncanakan untuk dikirim ke Bumi. Menyadari ancaman besar itu, para Marinir akhirnya menyabotase pesawat agar tidak bisa digunakan.
Misi berlanjut dengan operasi terakhir di stasiun Katanga, di mana Marinir harus meledakkan inti fusi untuk menghancurkan sarang Xenomorph. Mereka berhasil melaksanakan tugasnya, tapi terpaksa kabur saat berhadapan dengan Ratu Xenomorph yang mengamuk. Katanga hancur, namun ancaman belum sepenuhnya hilang: Xenomorph dan Patogen masih tersebar di permukaan LV-895. Situasi makin runyam karena Weyland-Yutani dan rivalnya, Hyperdyne Systems, mengirim pasukan untuk berebut kendali atas planet tersebut. Sementara itu, USS Endeavour dan para Marinirnya tetap bersiaga, memastikan infeksi mematikan itu tidak jatuh ke tangan yang salah.
Menariknya, kisah game ini memiliki prekuel berupa novel Aliens: Infiltrator karya Weston Ochse, yang dirilis oleh Titan Books dan menjelaskan peristiwa yang mengarah langsung ke awal cerita Fireteam Elite.
Pengembangan dan Rilis
Cold Iron Studios berdiri pada tahun 2015, dibentuk oleh mantan karyawan Cryptic Studios—developer di balik judul seperti City of Heroes dan Star Trek Online. Pada Maret 2019, studio ini diakuisisi oleh FoxNext Games, cabang penerbit game milik 20th Century Fox, yang awalnya ingin memperluas lini produk mereka ke proyek AAA, termasuk game Aliens terbaru ini.
Setelah itu, terjadi beberapa kali perpindahan kepemilikan:
- Disney membeli FoxNext,
- lalu menjual Cold Iron ke Scopely,
- hingga akhirnya berlabuh di Daybreak Game Company.
Meskipun sempat berpindah tangan, proyek ini tetap berjalan dan akhirnya dirilis pada 24 Agustus 2021 untuk PlayStation 4, PlayStation 5, Windows PC, Xbox One, dan Xbox Series X/S.
Setahun kemudian, tepatnya pada 30 Agustus 2022, rilis ekspansi berbayar pertama berjudul Pathogen. DLC ini menambahkan:
- 3 misi baru,
- 8 senjata tambahan,
- set kostum, emote, dan aksesori baru,
- serta jenis musuh baru yang terinspirasi dari film Alien: Covenant.
Penerimaan

Setelah rilis, Aliens: Fireteam Elite menerima tanggapan yang beragam dari para kritikus, dengan skor rata-rata di situs agregator ulasan Metacritic yang masuk ke kategori “campuran atau rata-rata”.
Beberapa media memberikan apresiasi positif:
- IGN menilai permainan berhasil menghadirkan banyak adegan baku tembak intens melawan kawanan Xenomorph, namun kecepatannya yang tidak konsisten serta desain level yang terasa berulang membuat game ini gagal mencapai status “klasik”.
- Eurogamer memuji desain serangan musuh, khususnya bagaimana Xenomorph bisa menyerbu dari berbagai arah. Hal ini menciptakan rasa tegang yang konstan—bahkan saat pemain merasa aman, serangan bisa datang tiba-tiba dari celah pertahanan.
- GamesRadar+ menyoroti akting suara yang solid, tetapi mengkritik kurangnya cutscene sinematik. Karakter Marinir digambarkan kaku dengan animasi terbatas, sehingga interaksi mereka tampak datar.
Ulasan lain lebih menekankan sisi kelemahan:

- Game Informer menganggap misi dalam game terasa terlalu repetitif dan minim variasi tujuan.
- PCMag mengapresiasi kualitas visual yang sinematik, namun menilai desain audionya generik dan cepat membosankan.
- Destructoid mengkritik kualitas AI rekan bot yang tidak konsisten, kadang responsif namun sering kali lambat bereaksi hingga membuat pemain frustrasi.
- Kotaku juga menyayangkan sistem pencarian jalur yang buruk, membuat musuh sering menyerang dari titik yang sama dan terasa kurang dinamis.
Di sisi lain, ada juga pujian terhadap beberapa fitur gameplay:

- GameSpot menyukai sistem perk yang memberi alasan kuat untuk mencoba tiap kelas karakter.
- PC Gamer menyoroti Challenge Cards, kartu pengubah misi yang mampu membuat tiap misi terasa kacau namun tetap menyenangkan.
- Polygon menilai bahwa meskipun prajurit dalam game tidak dibuat terlalu kuat, justru hal itu membuat kemenangan terasa lebih menegangkan dan memuaskan.
Dari sisi komersial, game ini cukup sukses di awal peluncuran. Aliens: Fireteam Elite sempat menjadi game terlaris di Inggris pada minggu perilisannya. Di Jepang, versi PlayStation 4 menempati posisi ke-21 dalam penjualan mingguan dengan sekitar 2.919 kopi fisik, sementara versi PlayStation 5 ada di posisi ke-30 dengan 2.077 kopi fisik terjual pada minggu pertama.
Penutupan
Aliens: Fireteam Elite pada dasarnya adalah sebuah pengalaman tembak-menembak kooperatif yang mencoba menghidupkan kembali ketegangan khas waralaba Alien. Game ini punya momen-momen seru penuh aksi, terutama saat Xenomorph menyerbu tanpa henti dari segala arah. Namun, di balik keseruan itu, ada juga kelemahan yang membuat sebagian pemain merasa kurang puas—mulai dari repetisi misi, AI rekan bot yang tidak konsisten, hingga desain level yang kadang terasa monoton.


Bagi penggemar berat Alien, game ini tetap menawarkan kesempatan untuk merasakan atmosfer tegang ala filmnya dalam format kerja sama tiga orang. Tapi untuk pemain kasual atau yang mencari variasi mendalam, Fireteam Elite mungkin terasa cepat membosankan.
Secara keseluruhan, game ini bukanlah sebuah terobosan besar dalam genre shooter kooperatif, tetapi cukup solid untuk dinikmati bersama teman-teman, terutama jika tujuan utamanya adalah sekadar “membantai Xenomorph” dalam jumlah masif sambil merasakan sensasi bertahan hidup di alam semesta Alien.


