Seputar Dunia Game

Six Days in Fallujah adalah game tembak-menembak taktis sudut pandang orang pertama (FPS) yang dikembangkan oleh Highwire Games dan diterbitkan oleh Victura. Berlatar dalam Pertempuran Fallujah Kedua selama Perang Irak, game ini menggambarkan enam hari pertempuran intens pada November 2004. Ceritanya mengikuti pasukan Marinir dari Batalyon ke-3, Marinir ke-1 (3/1) yang berjuang menghadapi pemberontak Irak di kota Fallujah, serta kisah sebuah keluarga sipil Irak yang berusaha menyelamatkan diri di tengah kekacauan perang.

Proyek ini awalnya digarap oleh Atomic Games dan diumumkan pada 2009 dengan rencana rilis tahun 2010 oleh Konami. Namun, karena kontroversi terkait sensitivitas temanya yang terlalu dekat dengan peristiwa nyata, Konami membatalkan keterlibatannya. Atomic Games kemudian bangkrut pada 2011, membuat proyek ini terhenti. Beberapa tahun kemudian, pada 2016, Peter Tamte mendirikan Victura dan bersama Highwire Games menghidupkan kembali proyek ini. Setelah pengumuman ulang pada 2021 dan beberapa kali penundaan, Six Days in Fallujah akhirnya dirilis dalam akses awal untuk PC pada 22 Juni 2023, dan versi PlayStation serta Xbox dijadwalkan hadir pada 2026.

Perkembangan

Latar Belakang

Menurut Peter Tamte, ide awal game ini lahir ketika Atomic Games sedang mengerjakan simulator pelatihan militer untuk Korps Marinir AS. Sejumlah Marinir dari 3/1 yang menjadi penasihat teknis kemudian ikut bertempur langsung di Fallujah. Sepulangnya dari misi itu, mereka meminta agar pengalaman mereka diangkat menjadi game.

Tamte ingin menciptakan game perang yang terasa nyata, bukan sekadar hiburan penuh efek. Ia menekankan bahwa game memberi kesempatan unik untuk menempatkan pemain dalam dilema nyata yang dihadapi pasukan di medan perang — berbeda dengan film, di mana penonton hanya melihat keputusan orang lain.

Pengembangan Awal oleh Atomic Games

Atomic Games mewawancarai lebih dari 70 orang, termasuk Marinir AS, warga sipil Irak, mantan pemberontak, hingga sejarawan militer untuk membangun cerita yang autentik. Mereka juga mempelajari buku-buku nonfiksi seperti We Were One karya Patrick K. O’Donnell, lalu merangkainya menjadi narasi dalam game.

Mereka menggambarkan Six Days sebagai game survival horror — bukan karena unsur supranatural, melainkan karena ketegangan psikologis dari taktik brutal dan serangan mendadak yang digunakan pemberontak. Banyak dari mereka bersembunyi berhari-hari menunggu Marinir, menciptakan atmosfer mencekam yang memengaruhi mental pasukan.

Atomic juga merancang sistem lingkungan yang bisa hancur total sesuai kerusakan tempur nyata, bukan sekadar efek visual. Menurut Tamte, tujuannya agar pemain benar-benar merasakan seperti berada di Fallujah, lengkap dengan wajah dan nama asli Marinir yang ikut terlibat dalam pertempuran itu.

Pembatalan

Pada April 2009, Konami mundur sebagai penerbit karena kontroversi publik yang besar. Atomic sempat berusaha melanjutkan pengembangan, tapi kesulitan menemukan penerbit baru dan harus merumahkan banyak staf.

Meski sempat beredar kabar pada 2010 bahwa game sudah hampir rampung, rilis tak pernah terjadi, dan kebangkrutan Atomic pada 2011 membuat masa depan proyek ini suram. Pada 2012 muncul kabar bahwa Sony pernah mempertimbangkan untuk menerbitkannya, bahkan Santa Monica Studio disebut sempat ikut mengembangkan. Tamte beberapa kali menegaskan proyek ini belum dibatalkan sepenuhnya.

Kebangkitan

Pada Februari 2021, Victura secara resmi mengumumkan bahwa proyek ini dihidupkan kembali, kali ini dengan Highwire Games sebagai pengembang utama. Versi baru ini menambahkan dua kampanye berbeda: satu dari sudut pandang Marinir yang memburu pemberontak sambil meminimalkan korban sipil, dan satu dari sudut pandang keluarga sipil Irak yang mencoba melarikan diri dari kota.

Karena keterbatasan tenaga dan sumber daya, pengembangan sempat tertunda ke 2022 lalu 2023. Pada Mei 2023, diumumkan bahwa Six Days in Fallujah akan dirilis dalam akses awal di PC pada 22 Juni 2023. Versi untuk PlayStation dan Xbox masih dalam pengembangan dan ditargetkan rilis pada 2026.

Kontroversi

Sejak pertama kali diumumkan, game ini langsung menuai kritik keras. Banyak pihak menilai waktunya terlalu dekat dari peristiwa asli sehingga tak pantas dijadikan hiburan. Kritik juga menyoroti kekhawatiran bahwa game ini akan mengabaikan konteks penting seperti korban sipil atau latar politik invasi Irak, dan malah membingkainya sebagai narasi pro-Amerika.

Stop the War Coalition bahkan menyebut game ini “sakit” dan menuduhnya menghapus kekejaman perang yang mereka sebut sebagai salah satu kejahatan perang terburuk.

Kontroversi berlanjut saat proyek ini dihidupkan kembali pada 2021. Organisasi seperti Council on American–Islamic Relations meminta agar Sony, Microsoft, dan Valve menolak merilisnya di platform mereka. Setelah versi akses awal keluar, beberapa pihak juga mengkritik bahwa hampir semua wawancara dan konten informasi dalam game hanya berasal dari Marinir AS, tanpa sudut pandang warga Irak.

Tanggapan Pengembang

Peter Tamte menegaskan bahwa game ini tidak bermaksud membahas politik atau membenarkan Perang Irak, melainkan hanya ingin menampilkan pengalaman nyata para Marinir di lapangan.

Menanggapi tudingan bahwa game ini menutup-nutupi kekejaman perang, Tamte mengatakan mereka memang tidak menampilkan kekejaman secara langsung, tapi tetap bisa menyampaikan dampak kemanusiaan tanpa harus membuat pemain melakukan kekejaman. Ia juga membantah tudingan propaganda dan menegaskan bahwa proyek ini tidak didanai atau dikendalikan oleh pemerintah AS.

Sebagai respons atas kritik soal sudut pandang tunggal, Highwire berencana menambahkan perspektif warga sipil Irak dan pasukan Koalisi lainnya dalam pembaruan pada tahun 2024.

Penutupan

Six Days in Fallujah adalah upaya ambisius menghadirkan konflik sejarah terkini ke medium video game dengan pendekatan yang mencoba realistis, berimbang, dan reflektif. Dari awal kontroversinya hingga rilis early access dan rencana port konsolnya, game ini menunjukkan sisi gelap dan tantangan adaptasi konflik nyata dalam entertainment.

Game ini bukan tanpa kritik: sensitivitas tema, perspektif cerita, dan keseimbangan moral menjadi bahan diskusi penting. Namun kelebihan seperti realisme, atmosfir, penggunaan dua kampanye, dan basis historis memberinya bobot unik.

Bagi pemain dan pengamat yang terbuka pada tema kompleks dan nyata, serta tidak keberatan menghadapi kenyataan perang dalam bentuk interaktif, Six Days in Fallujah menawarkan pengalaman yang berbeda dari banyak shooter militer modern yang cenderung fiksi atau glamor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *